Sajak Palsu
Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.
1998
Indahnya Kepalsuan Hidup « Sains-Inreligion berkata,
Februari 14, 2007 pada 4:58 am
[...] itulah yang menarik, karena kita suka pada kepalsuan itu maka salah satu prosa eh puisi palsu ini memberikan esensi bagi kehadiran manusia Indonesia. Ternyata, kepalsuan itu indah ya, [...]
manusiasuper berkata,
Februari 17, 2007 pada 3:52 am
pindah negara ke yang asli?
@
Kalau pindah ke negara yang asli biaya hidupnya pakai uang asli ya? Nanti pungutan-pungutan buat anak sekolah kita asli juga dong Mas
sumeleh berkata,
Maret 15, 2007 pada 10:27 am
dalam segala kepalsuan selalu ada cahaya sejati,
dan itulah yang mesti dicari mas
jikalau kita benar-benar mencintai kesejatian
semoga ini bukan komentar palsu
salam kenal ya
saya suka puisinya
@
Kepalsuan memang indah, tapi ada ujar-ujar klasik yang mengatakan bahwa: semulia-mulianya orang yang palsu, lebih mulia mereka yang eling dan waspada
cessa berkata,
Maret 26, 2007 pada 1:43 am
seperti apa pun palsunya kita…
masih ada yang tak pernah palsu…
hati!!!
ya…disanalah ada sebuah asli sesungguhnya..
tinggal..apakah kita punya hati???
@
betul. jangan biarkan siapapun memalsukan yang satu itu
rimba berkata,
Juni 22, 2007 pada 6:31 am
percaya deh pak komentar saya ini tidak PALSU
“bagus pak”
Yayan Sugiana berkata,
Agustus 8, 2007 pada 5:36 am
Sumpah, Jon ti baheula ente geus kacutat dina hate jadi sobat sajati urang. Tapi pikeun ente, urang mah meureun sakadar sobat palsu, meureun.
ratri berkata,
Agustus 16, 2007 pada 8:16 am
saya dengar puisi ini dibacakan oleh mas feri dalam acara international youth conference dan saya jatuh cinta. bukan pada mas feri nya, juga bukan pada pak agus, tapi pada puisi ini. kereeeeeeeeeeeeeeen….
aku suka.dan ini bukan pujian palsu.hehehe. sukses ya….
nugroho berkata,
November 27, 2007 pada 12:28 am
Luar biasa Pak
ini adalah puisi yang ekspresionist dan layak untuk menjadi kaca bagi kita semua (terutama bagi para penyelenggara negara ) apakah kita semua menyelenggarakan kegiatan yang asli atau palsu ya ?
Melati berkata,
November 30, 2007 pada 8:58 am
kepalsuan yang indah…
Taufiq Wr. HIdayat berkata,
Desember 5, 2007 pada 2:32 pm
kepalsuan. mungkin demikianlah gaya persajakan Agus, meski sekarang dia tambah hebat gak karu-karuan karena akrabnya dengan puisi-puisi Jerman. soal sajak palsunya itu, aku begitu terkesan dan kupikir memang benarlah demikian keadaan kita. namun, jujur saja, saya merasa kehilangan metafor-metafor dan kemilau kata yang sederhana dari sajak-sajak Agus sejak tahun-tahun 95-an, getaran kata tidak lagi seindah dan semurni ketika ia menulis “kitapun terbatuk-batuk/seperti alamat nasib buruk”. Bagaimana kawan-kawan? Bagaimana Kawan Agus? Apa perlu kita sama-sama berkenalan dengan Prajurit Jatiman?
sultan berkata,
Februari 10, 2008 pada 12:25 pm
salam sukses dari anak bugis…sukses karya
Leo Kelana berkata,
Februari 12, 2008 pada 3:46 pm
Bahkan kentut pun terkadang palsu. Salam untuk ‘Sajak Palsu’-nya Mas. Kapan-kapan saya ingin bertukar sapa dengan Sampeyan. Mohon bimbingan untuk mencari dan membikin tulisan palsu. Tabik -Leo-
krida berkata,
Februari 22, 2008 pada 2:08 am
say mo tanya, saya belum terlalu mengerti apa maksud sajak ini? trus sebenarnya nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam sajak ini itu apa? tolong ya mas. sebelumnya matur thank you
dian berkata,
Maret 5, 2008 pada 8:10 am
mau tanya donk arti puisi ini apaan?
soalnya saya ada tugas memparafrasekan puisi milik anda…..
tolong di balas
makasih
Chosis berkata,
April 16, 2008 pada 7:55 pm
wah…
bukannya sajak palsu tu tu milik Lek Sutardji?
Nurhadi,S.Pd berkata,
Juni 4, 2008 pada 10:03 am
mas agus kempat kalinya kita bertemu tapi yang pertama lewat layar monitor ini.
oh ya saya seorang guru bahasa Indonesia yang pernah ikut MMAS, Aprisda, dan SBSB di SMA 1 Semarang. ingat kan? sajak palsu kubaca di pensi tahun lalu. tapi aku tersudut oleh teman-teman. gara-gara kata-katamu yang “membuat nilai palsu” uh beragam komentar meluncur. tapi gak tahu apa karena satire anda ataukah emang benar-benar nilai palsu?. mohon dukungan ku lagi belajar bersastra lewat blog. mohon ditengok walau sepuluh detik saja. terimaksih. kapan ke semarang saya tunggu kedatanganmu di SMA N 1 Boja. salam tuk pak Agus S, teman-teman Horison dan pak Taufiq.
Tasya berkata,
Juni 16, 2008 pada 6:19 am
Emg siWh di Ind0nesia penUh dgn kepALsuan. ABz smW haL Yg paLsu kdg Lbh enAk dbdg mUrni ASLI
ulf berkata,
Juni 30, 2008 pada 6:49 am
qta da g sadar sama hidup yg sebenernya skeliling qta
CUMA PALSU,PALSU,DAN PALSU………..
Irsyad berkata,
Juli 8, 2008 pada 11:47 am
punya web wordpress kok g bilang2
Didi Arsandi berkata,
Juli 21, 2008 pada 10:52 pm
Salam,
Pak Agus, perkenalkan, saya seorang mahasiswa yang “mencintai” seni kepenulisan puisi. maka itu, ada beberapa hal sangat penting
yang ingin saya sampaikan pada Pak Agus, dan mungkin sifatnya lebih
tertutup atau pribadi daripada forum untuk umum sebagaimana
yang disediakan di alamat Pak Agus ini.
Oleh karena itu, saya mengharapkan agar kiranya Pak Agus bersedia
memberi tahu alamat email Pak Agus, agar dapat saya kirimkan
sebentuk surat yang menyangkut hal yang saya singgungkan di atas.
Atas Perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.
,
Wassalam
Didi Arsandi
addie setyawan berkata,
Agustus 22, 2008 pada 1:20 pm
puisi ini sangat pas dengan keadaan di bumi indonesia ini,menggambarkan sebuah kepalsuan dan kepalsuan semakin menyindrome di negara ini.
addie setyawan berkata,
Agustus 22, 2008 pada 1:22 pm
thx bapak agus telah mengingatkan para pemalsu-malsu di negara kita ini,smoga mereka tobat…..hahahahah!
Agit Yogi Subandi berkata,
September 5, 2008 pada 6:46 am
ketika membaca “Sajak Palsu” anda ini, saya seperti mendapat jawaban dari zaman millenium ini. di mana semuanya serba instant dan begitu cepat. sehingaa kalu seseorang menjadi seniman, dia menjadi seniman yang nanggung, penyanyi yang nanggung atau apa saja. tapi pada dasarnya adalah sebuah proses yang tidak lagi dijalankan. sehingga salah satu akibatnya adalah sastra yang peminatnya setiap tahun selalu berkurang.
“dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru….”
sudah pasti, yang namanya murid pada umumnya mengikuti si guru yang berjanji palsu. dan mungkin dia juga adalah guru yang palsu pula…
membaca “sajak palsu”, saya merasa diri saya juga palsu…
Heri Muliadi S berkata,
Oktober 15, 2008 pada 1:12 am
Pertamakali saya denganr sajak ini pada penutupan diklat cakep di P4TK Bandung, dan terimaksih, semoga ke depan segala kepalsuan dapat kita rubah
yon aldi miola berkata,
November 22, 2008 pada 11:01 pm
Beb, sukses sll.
Bangsawan muda berkata,
Desember 16, 2008 pada 5:53 pm
first time,,, aku membacakan puisi sajak palsu ini ketika aku masih kelas 2 smp,,,
Masih awam,,,
Jadi dulu masih gk ngeh maksud dr puisiny,,, aku hanya tertarik akan keindahan kata ‘palsu’ yg tepat dsematkan
–
Kelas 2 sma,, akhirnya aku sadar akan keajaiban kata2 dari puisi itu,
Sangat bermakna, apalagi stlh mendengar langsung puisi tersebut dari mulut pengarangnya sendiri saat beliau datang mengunjungi sekolahku,, hhe3
nusantara berkata,
Februari 28, 2009 pada 8:40 pm
mantap….
kadang kita juga beriman pada tuhan2 palsu,yang diajarkan ulama2 palsu yang cuma ngerti ajaran2 palsu,,,,,ah,dunia memang palsu.
thanx
Romdoni berkata,
Maret 18, 2009 pada 2:30 pm
Salam kenal mas agus…..sajaknya bagus sekali….saya mohon izin utk memasang sajaknya pada “wall facebook” saya,dg harapan agar selalu saya baca sendiri dan dibaca oleh orang lain.mdh2an bermanfaat…
yoyo berkata,
Mei 3, 2009 pada 4:23 am
halo mas, saya suka banget sajaknya, saya minta izin naro di postingan saya, berhubung banyaknya teman-teman saya yang berbuat curang saat UN kemaren. mudah-mudahan menyadarkan mereka
romahamzani berkata,
Mei 6, 2009 pada 4:15 am
Ikutan komentar terakhir dari YOYO …saya ingin mampangin juga di Blog saya mas ….
http://romahamzani.wordpress.com
romahamzani berkata,
Mei 6, 2009 pada 4:17 am
Puisinya bagus ….sayang saya belum bisa membacanya di depan orang banyak cz waktu itu saya gagal masuk ke babak berikutnya karena ….salah strategi …..
nila rahma berkata,
Mei 25, 2009 pada 3:56 am
Keren!
i love it!
Pak, makasih ya, kemarin udah mau nyempetin baca “Sajak Palsu” di Auditorim Ged IX FIB UI.
Riscki Wahyuarsari berkata,
Juli 27, 2009 pada 8:06 am
Baru pertama baca (dr buku pnjeman Perpus skoLah) Lgsg suka.unik tapi mengeNa banget.
Ruslimah berkata,
Desember 9, 2009 pada 6:44 am
Saya salut dengan puisi “Sajak Palsu” ini, penuh makna,cerdas dengan nilai estetika yang tinggi, cuma satu yang saya kurang setuju “ibu guru” ganti saja dengan dosen, bukannya dosen yang banyak begitu? anak sekolah ganti dengan anak kuliah, bukankah itu lebih realitas? klo anak sekolah masih lugu dan ga begitu ngerti dengan nilai sogokan
agusrsarjono berkata,
Desember 9, 2009 pada 12:04 pm
setuju, tapi sebetulnya yang saya maksud dengan guru adalah para pengajar, terutama guru sedang (dosen) dan guru besar. Dan anak sekolah, tentu saja semua anak yang bersekolah, termasuk mahasiswa. Sajak ini adalah persembahan saya buat para guru yang tidak palsu.
terima kasih dan salam selalu.
ars
Ruslimah berkata,
Desember 13, 2009 pada 12:00 am
ok deh klo gtu, sebetulnya saya ngerti yg tersirat pada sajak itu cuma pengen “orang besar” yang mesti digigit lg, yg kecil dah pada terpuruk pa. Kita tunggu sajak berikutnya, slamat berkarya
pake_y berkata,
Desember 10, 2009 pada 12:46 pm
sajak yang tak pernah jenuh kubaca berkali-kali ……
jadi inget Rima waktu bacain puisi ini di DKC
^_^
arif berkata,
Januari 14, 2010 pada 8:04 am
wah asyik dah pernah bawain puisi ini, jadi pengen…
arif berkata,
Januari 14, 2010 pada 8:02 am
pancaran cahaya yang terpancar dari karya ini tidak palsu
membangkitkan semangat palsu menjadi tidak palsu
untuk menjadi seniman yang tak palsu
amiin…
moal cape dijamin maca naskah puisi ieu mah
agusrsarjono berkata,
November 18, 2011 pada 4:13 am
Hatur nuhun
Sent from my iPad
Cahya berkata,
Februari 16, 2010 pada 10:21 am
Saya ingat, ini puisi yang saya baca ketika masih SMA dulu, hmm… waktu acara bengkel sastra atau pas kunjungan dari para sastrawan ya?
Saya punya banyak kenangan dengan puisi ini
Inda Agustina berkata,
Februari 24, 2010 pada 11:33 pm
Salam kenal pak.,puisinya bagus skali..saya minta izin ya pak buat posting di facebook..Trima kasih.
iska berkata,
Maret 17, 2010 pada 10:57 am
sampailah aku ini komentar pun komentar palsu…. ekekek wkwkwkw karena di dunia ini semua palsuuuuuuuuuuuuuuuuu
adegustiann berkata,
Maret 22, 2010 pada 3:26 am
no comment jadinya..
yudha yuliardi berkata,
Maret 27, 2010 pada 4:17 am
pernah kami baca waktu SMA sebagai pembukaan pagelaran Aming Aminudin.
benar-benar bergizi…
mustan berkata,
April 6, 2010 pada 4:23 am
Kalau semuanya asli mana bisa rakyak di negeri ini hidup .
icha berkata,
April 9, 2010 pada 1:45 pm
smuaY palsuuuuuuuuuuuuuuuu…………..
Anggy Dede' berkata,
Mei 1, 2010 pada 2:16 am
P-A-L-S-U….. BeautyfuL!!!!!!!!!!
efos berkata,
Mei 22, 2010 pada 5:12 pm
salah satu sajak yg dimiliki bangsa indonesia……..
H.G. Subekti berkata,
Mei 22, 2010 pada 8:08 pm
luar biasa…
dulu waktu SMA saya sering puisi2 pak agus sarjono ini…
sekarang baru nemu blognya…
Reisa Saras berkata,
Mei 23, 2010 pada 1:37 pm
Ini puisi yang paling saya suka dari puisi-puisi yg sudah saya baca sebelumnya. Pertama kali saya baca puisi ini waktu kelas 1 SMA sekitar tahun 2005 kalau tidak salah. Baru sekarang tau Pak Agus punya blognya
LIKE THIS LIKE THIS.
Rumah Kreatif Masagi berkata,
Mei 25, 2010 pada 3:18 am
Mas Agus Puisinya izin di monologkan buat ngisi acara disekolah
Tatang Hadiono berkata,
Juni 29, 2010 pada 12:13 pm
Mas Agus yth.,
Saya mendengar puisi anda pertama kali ketika dibacakan oleh Ayah Edi dalam acara “Indonesian’s strong from home” di SMART FM pada minggu ketiga bulan Juni 2010. Dengan ini saya minta ijin untuk menyebarkan puisi anda kepada anak-anak pengajian saya yang kebetulan bekerja sosial sebagai guru yang membimbing aneka mata pelajaran di lingkungannya sendiri.
Semoga Mas Agus selalu sukses di dunia dan akhirat. Amin.
Terima kasih.
Arief Dominic Howard berkata,
Juli 29, 2010 pada 12:00 pm
Pak, Tolong donk jelasin apa Maksud dari puisi bapak, yang Berjudul ” Sajak Palsu ”
Karena saya ingin mengetahui maksud sebenarnya dari puisi tersebut
achoey berkata,
Oktober 24, 2010 pada 6:27 am
Mendengarkan istri saya membacakan puisi ini, melatih adiknya yg esok kan lomba di UNSIL, wah rasanya merinding sekali.
ir zon berkata,
Desember 31, 2010 pada 5:19 am
wo.w…………………….
keren………………………
agusrsarjono berkata,
Desember 31, 2010 pada 5:32 am
wow makasih
tiara berkata,
Desember 31, 2010 pada 9:14 am
hmm…
moga yg merasa bisa merubah sikapnya ya om……………………………
agusrsarjono berkata,
Desember 31, 2010 pada 9:32 am
Semoga saja, semoga saja
widyopurnomo berkata,
Januari 20, 2011 pada 5:08 am
Salam kenal pak.,puisinya sanagt tajam sekali..saya minta izin ya pak buat posting di millis……Trima kasih.
agusrsarjono berkata,
Januari 20, 2011 pada 7:33 am
Okee, sip
Sent from my iPad
R.Didik Indratno M berkata,
Mei 4, 2011 pada 12:30 am
Aduh….jangan jangan kita dilahirkan sebagai manusia Palsu…
pak didin berkata,
Juni 3, 2011 pada 10:52 pm
kang agus! kepalsuan di negara kita, memang sudah merambah berbagai aspek kehidupan. saya teringat dengan puisi ini karena pernah menyimak ketika dibacakan salah seorang anak didik saya, lalu mencarinya di dunia maya. tidak sulit ternyata. mengapa saya teringat?karena saya sedang sangat merasa berada dalam lingkaran kepalsuan dan saya ada didalamnya. lelah ketika kita berjuang memerangi kepalsuan ditengah-tengah orang yang palsu!
untuk ibu/ bapak ruslimah, tidak perlu membatasi guru itu dosen, karena saya merasakan dan melihat serta dipaksa berbuat palsu. saya katakan di atas lelah, karena saya harus terus berada dalam pusaran kepalsuan yang tidak henti-hentinya mengalir deras. mohon doa agar saya bisa tetap bertahan.
Buat siapapun yang berjuang melawan kepalsuan, terus berjuang, lelah adalah bumbu penambah nikmat perjuangan. InsyaAllah, Allah merestui perjuangan kita dengan terus menguji kekuatan dan ketabahan kita.
arinil berkata,
Juni 8, 2011 pada 4:14 pm
salam kenal mas Agus. Ijin ngutip puisinya nggih untuk blog saya. i like it.
to2physic berkata,
Juni 10, 2011 pada 8:47 am
tolong di tambahkan dengan sastrawan palsu yg selalu membuat karya karya palsu
Sofyan Agus berkata,
Juni 11, 2011 pada 1:44 am
ijin share pa !!!…sebuah kepalsuan..berbuah kemunafikan…indah, nyelekit
agusrsarjono berkata,
Juni 11, 2011 pada 6:49 am
Silaken, silaken
haslinda berkata,
Juli 15, 2011 pada 2:16 pm
permisi saya mau share ke Facebook ya
lolita berkata,
Juli 15, 2011 pada 2:31 pm
pertama kali denger puisi ini dalam SBSB di SMPN 5 bandung baru baru ini saya sebagai orang awam puisi sangat menyukai puisi ini dan jadi tertarik untuk mengenal puisi lebih dalam
terimakasih pak Agus
muhni berkata,
Juli 30, 2011 pada 1:24 pm
aku bacakan puisi ini waktu reuni di sekolah, semua guru dan temanku, memberikan ekspresi yang berbeda…
Firah Iyin berkata,
September 28, 2011 pada 7:18 am
it’s my favorite poem. . .
teringat aku yang ddulue,,,,,
sewaktu di atas panggung,,hehehhe
rie berkata,
Oktober 7, 2011 pada 9:05 am
ijin share gan…
M.E.Gunawan berkata,
Oktober 19, 2011 pada 8:19 am
saat ini saya lagi dengar langsung dari maesto sastra indoensia, dalam acara Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra MMAS….senin ke rabu..cepat kali rasanya….
M.E.Gunawan berkata,
November 19, 2011 pada 7:43 am
Saya terkesan dengan anda, semoga studi di luar negerinya sukses.
agusrsarjono berkata,
November 19, 2011 pada 10:17 am
Trims berat
santi junianti berkata,
November 23, 2011 pada 12:10 pm
bagus sekali puisinya, bisa menjadi bahan renungan…
agusrsarjono berkata,
November 23, 2011 pada 6:00 pm
Makasih dan salam
megunawanuhamad berkata,
November 24, 2011 pada 2:11 am
good. penuh dengan inspirasi.
dina analya berkata,
November 30, 2011 pada 10:03 pm
mkasih untuk puisinya.. tapi aku ragu nyampaiin ini puisi keguru… tkut guru.nya slah fham
ube berkata,
Desember 1, 2011 pada 7:57 am
bagus !
isnayanti berkata,
Desember 23, 2011 pada 2:58 pm
puisi paling kerren yg oernah aq baca..
agusrsarjono berkata,
Desember 23, 2011 pada 3:56 pm
terima kasih atas komentar palsunya yang cool itu. salaaammm
ahmar berkata,
Desember 28, 2011 pada 1:06 pm
puisinya,,,,bagus banget…
kalau boleh..buatin 1 lagi donk…
buat aku bacain….dpan guru…guru aku
ahmar berkata,
Desember 28, 2011 pada 1:08 pm
puisinya bagus bnget…klu bisa buatin satu lagi…pak/…
saya ingin membacakan di dpan guru guru saya…
terimakasih
agusrsarjono berkata,
Januari 3, 2012 pada 8:16 pm
Rasanya baca yang ini buat beliau2 pun cukup he he
ai chan berkata,
Januari 19, 2012 pada 6:12 am
puisinya mengena bgt,,meski diksinya lugas, tp lgsg tertancap dalam
klu diparafrasekan kira2 jdnya bgmn ya??
agusrsarjono berkata,
Januari 19, 2012 pada 4:16 pm
he he coba saja
arif berkata,
Februari 20, 2012 pada 10:16 am
Assalamualaikum pak…
saya mendapatkan tugas dari mata kuliah apresiasi sastra untuk mencari teman dari kalangan sastrawan ….
mau kah bapak agus menjadi teman saya…??
agusrsarjono berkata,
Februari 20, 2012 pada 5:05 pm
Tentu
Sent from my iPad
arif berkata,
Februari 27, 2012 pada 1:42 pm
terima kasih pak…
love you berkata,
Maret 24, 2012 pada 2:42 pm
yang lain bersandiwara, gue apa adanya
cahya rizki amliyah berkata,
Mei 13, 2012 pada 12:34 pm
assalamualaikum pak
saya mahasiswa PBSI Unindra, mungkin bapak masih ingat bapak pernah menjadi bintang tamu dalam seminar bahasa oktober 2011 di TMII. di sana saya pertama kali melihat bapak, dan saya merasa senang bisa melihat bapak secara langsung, dan bisa mengetahui sosok bapak, hehe
agusrsarjono berkata,
Mei 14, 2012 pada 1:46 pm
Salam hangat ya, semoga bisa saling bertemu
ars