Sajak Palsu
Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.
1998
Indahnya Kepalsuan Hidup « Sains-Inreligion berkata,
Februari 14, 2007 pada 4:58 am
[...] itulah yang menarik, karena kita suka pada kepalsuan itu maka salah satu prosa eh puisi palsu ini memberikan esensi bagi kehadiran manusia Indonesia. Ternyata, kepalsuan itu indah ya, [...]
manusiasuper berkata,
Februari 17, 2007 pada 3:52 am
pindah negara ke yang asli?
@
Kalau pindah ke negara yang asli biaya hidupnya pakai uang asli ya? Nanti pungutan-pungutan buat anak sekolah kita asli juga dong Mas
sumeleh berkata,
Maret 15, 2007 pada 10:27 am
dalam segala kepalsuan selalu ada cahaya sejati,
dan itulah yang mesti dicari mas
jikalau kita benar-benar mencintai kesejatian
semoga ini bukan komentar palsu
salam kenal ya
saya suka puisinya
@
Kepalsuan memang indah, tapi ada ujar-ujar klasik yang mengatakan bahwa: semulia-mulianya orang yang palsu, lebih mulia mereka yang eling dan waspada
cessa berkata,
Maret 26, 2007 pada 1:43 am
seperti apa pun palsunya kita…
masih ada yang tak pernah palsu…
hati!!!
ya…disanalah ada sebuah asli sesungguhnya..
tinggal..apakah kita punya hati???
@
betul. jangan biarkan siapapun memalsukan yang satu itu
rimba berkata,
Juni 22, 2007 pada 6:31 am
percaya deh pak komentar saya ini tidak PALSU
“bagus pak”
Yayan Sugiana berkata,
Agustus 8, 2007 pada 5:36 am
Sumpah, Jon ti baheula ente geus kacutat dina hate jadi sobat sajati urang. Tapi pikeun ente, urang mah meureun sakadar sobat palsu, meureun.
ratri berkata,
Agustus 16, 2007 pada 8:16 am
saya dengar puisi ini dibacakan oleh mas feri dalam acara international youth conference dan saya jatuh cinta. bukan pada mas feri nya, juga bukan pada pak agus, tapi pada puisi ini. kereeeeeeeeeeeeeeen….
aku suka.dan ini bukan pujian palsu.hehehe. sukses ya….
nugroho berkata,
November 27, 2007 pada 12:28 am
Luar biasa Pak
ini adalah puisi yang ekspresionist dan layak untuk menjadi kaca bagi kita semua (terutama bagi para penyelenggara negara ) apakah kita semua menyelenggarakan kegiatan yang asli atau palsu ya ?
Melati berkata,
November 30, 2007 pada 8:58 am
kepalsuan yang indah…
Taufiq Wr. HIdayat berkata,
Desember 5, 2007 pada 2:32 pm
kepalsuan. mungkin demikianlah gaya persajakan Agus, meski sekarang dia tambah hebat gak karu-karuan karena akrabnya dengan puisi-puisi Jerman. soal sajak palsunya itu, aku begitu terkesan dan kupikir memang benarlah demikian keadaan kita. namun, jujur saja, saya merasa kehilangan metafor-metafor dan kemilau kata yang sederhana dari sajak-sajak Agus sejak tahun-tahun 95-an, getaran kata tidak lagi seindah dan semurni ketika ia menulis “kitapun terbatuk-batuk/seperti alamat nasib buruk”. Bagaimana kawan-kawan? Bagaimana Kawan Agus? Apa perlu kita sama-sama berkenalan dengan Prajurit Jatiman?
sultan berkata,
Februari 10, 2008 pada 12:25 pm
salam sukses dari anak bugis…sukses karya
Leo Kelana berkata,
Februari 12, 2008 pada 3:46 pm
Bahkan kentut pun terkadang palsu. Salam untuk ‘Sajak Palsu’-nya Mas. Kapan-kapan saya ingin bertukar sapa dengan Sampeyan. Mohon bimbingan untuk mencari dan membikin tulisan palsu. Tabik -Leo-
krida berkata,
Februari 22, 2008 pada 2:08 am
say mo tanya, saya belum terlalu mengerti apa maksud sajak ini? trus sebenarnya nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam sajak ini itu apa? tolong ya mas. sebelumnya matur thank you
dian berkata,
Maret 5, 2008 pada 8:10 am
mau tanya donk arti puisi ini apaan?
soalnya saya ada tugas memparafrasekan puisi milik anda…..
tolong di balas
makasih
Chosis berkata,
April 16, 2008 pada 7:55 pm
wah…
bukannya sajak palsu tu tu milik Lek Sutardji?
Nurhadi,S.Pd berkata,
Juni 4, 2008 pada 10:03 am
mas agus kempat kalinya kita bertemu tapi yang pertama lewat layar monitor ini.
oh ya saya seorang guru bahasa Indonesia yang pernah ikut MMAS, Aprisda, dan SBSB di SMA 1 Semarang. ingat kan? sajak palsu kubaca di pensi tahun lalu. tapi aku tersudut oleh teman-teman. gara-gara kata-katamu yang “membuat nilai palsu” uh beragam komentar meluncur. tapi gak tahu apa karena satire anda ataukah emang benar-benar nilai palsu?. mohon dukungan ku lagi belajar bersastra lewat blog. mohon ditengok walau sepuluh detik saja. terimaksih. kapan ke semarang saya tunggu kedatanganmu di SMA N 1 Boja. salam tuk pak Agus S, teman-teman Horison dan pak Taufiq.
Tasya berkata,
Juni 16, 2008 pada 6:19 am
Emg siWh di Ind0nesia penUh dgn kepALsuan. ABz smW haL Yg paLsu kdg Lbh enAk dbdg mUrni ASLI
ulf berkata,
Juni 30, 2008 pada 6:49 am
qta da g sadar sama hidup yg sebenernya skeliling qta
CUMA PALSU,PALSU,DAN PALSU………..
Irsyad berkata,
Juli 8, 2008 pada 11:47 am
punya web wordpress kok g bilang2
Didi Arsandi berkata,
Juli 21, 2008 pada 10:52 pm
Salam,
Pak Agus, perkenalkan, saya seorang mahasiswa yang “mencintai” seni kepenulisan puisi. maka itu, ada beberapa hal sangat penting
yang ingin saya sampaikan pada Pak Agus, dan mungkin sifatnya lebih
tertutup atau pribadi daripada forum untuk umum sebagaimana
yang disediakan di alamat Pak Agus ini.
Oleh karena itu, saya mengharapkan agar kiranya Pak Agus bersedia
memberi tahu alamat email Pak Agus, agar dapat saya kirimkan
sebentuk surat yang menyangkut hal yang saya singgungkan di atas.
Atas Perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.
,
Wassalam
Didi Arsandi
addie setyawan berkata,
Agustus 22, 2008 pada 1:20 pm
puisi ini sangat pas dengan keadaan di bumi indonesia ini,menggambarkan sebuah kepalsuan dan kepalsuan semakin menyindrome di negara ini.
addie setyawan berkata,
Agustus 22, 2008 pada 1:22 pm
thx bapak agus telah mengingatkan para pemalsu-malsu di negara kita ini,smoga mereka tobat…..hahahahah!
Agit Yogi Subandi berkata,
September 5, 2008 pada 6:46 am
ketika membaca “Sajak Palsu” anda ini, saya seperti mendapat jawaban dari zaman millenium ini. di mana semuanya serba instant dan begitu cepat. sehingaa kalu seseorang menjadi seniman, dia menjadi seniman yang nanggung, penyanyi yang nanggung atau apa saja. tapi pada dasarnya adalah sebuah proses yang tidak lagi dijalankan. sehingga salah satu akibatnya adalah sastra yang peminatnya setiap tahun selalu berkurang.
“dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru….”
sudah pasti, yang namanya murid pada umumnya mengikuti si guru yang berjanji palsu. dan mungkin dia juga adalah guru yang palsu pula…
membaca “sajak palsu”, saya merasa diri saya juga palsu…
Heri Muliadi S berkata,
Oktober 15, 2008 pada 1:12 am
Pertamakali saya denganr sajak ini pada penutupan diklat cakep di P4TK Bandung, dan terimaksih, semoga ke depan segala kepalsuan dapat kita rubah
yon aldi miola berkata,
November 22, 2008 pada 11:01 pm
Beb, sukses sll.
Bangsawan muda berkata,
Desember 16, 2008 pada 5:53 pm
first time,,, aku membacakan puisi sajak palsu ini ketika aku masih kelas 2 smp,,,
Masih awam,,,
Jadi dulu masih gk ngeh maksud dr puisiny,,, aku hanya tertarik akan keindahan kata ‘palsu’ yg tepat dsematkan
–
Kelas 2 sma,, akhirnya aku sadar akan keajaiban kata2 dari puisi itu,
Sangat bermakna, apalagi stlh mendengar langsung puisi tersebut dari mulut pengarangnya sendiri saat beliau datang mengunjungi sekolahku,, hhe3
nusantara berkata,
Februari 28, 2009 pada 8:40 pm
mantap….
kadang kita juga beriman pada tuhan2 palsu,yang diajarkan ulama2 palsu yang cuma ngerti ajaran2 palsu,,,,,ah,dunia memang palsu.
thanx
Romdoni berkata,
Maret 18, 2009 pada 2:30 pm
Salam kenal mas agus…..sajaknya bagus sekali….saya mohon izin utk memasang sajaknya pada “wall facebook” saya,dg harapan agar selalu saya baca sendiri dan dibaca oleh orang lain.mdh2an bermanfaat…
yoyo berkata,
Mei 3, 2009 pada 4:23 am
halo mas, saya suka banget sajaknya, saya minta izin naro di postingan saya, berhubung banyaknya teman-teman saya yang berbuat curang saat UN kemaren. mudah-mudahan menyadarkan mereka
romahamzani berkata,
Mei 6, 2009 pada 4:15 am
Ikutan komentar terakhir dari YOYO …saya ingin mampangin juga di Blog saya mas ….
http://romahamzani.wordpress.com
romahamzani berkata,
Mei 6, 2009 pada 4:17 am
Puisinya bagus ….sayang saya belum bisa membacanya di depan orang banyak cz waktu itu saya gagal masuk ke babak berikutnya karena ….salah strategi …..
nila rahma berkata,
Mei 25, 2009 pada 3:56 am
Keren!
i love it!
Pak, makasih ya, kemarin udah mau nyempetin baca “Sajak Palsu” di Auditorim Ged IX FIB UI.
Riscki Wahyuarsari berkata,
Juli 27, 2009 pada 8:06 am
Baru pertama baca (dr buku pnjeman Perpus skoLah) Lgsg suka.unik tapi mengeNa banget.
Ruslimah berkata,
Desember 9, 2009 pada 6:44 am
Saya salut dengan puisi “Sajak Palsu” ini, penuh makna,cerdas dengan nilai estetika yang tinggi, cuma satu yang saya kurang setuju “ibu guru” ganti saja dengan dosen, bukannya dosen yang banyak begitu? anak sekolah ganti dengan anak kuliah, bukankah itu lebih realitas? klo anak sekolah masih lugu dan ga begitu ngerti dengan nilai sogokan
agusrsarjono berkata,
Desember 9, 2009 pada 12:04 pm
setuju, tapi sebetulnya yang saya maksud dengan guru adalah para pengajar, terutama guru sedang (dosen) dan guru besar. Dan anak sekolah, tentu saja semua anak yang bersekolah, termasuk mahasiswa. Sajak ini adalah persembahan saya buat para guru yang tidak palsu.
terima kasih dan salam selalu.
ars
Ruslimah berkata,
Desember 13, 2009 pada 12:00 am
ok deh klo gtu, sebetulnya saya ngerti yg tersirat pada sajak itu cuma pengen “orang besar” yang mesti digigit lg, yg kecil dah pada terpuruk pa. Kita tunggu sajak berikutnya, slamat berkarya
pake_y berkata,
Desember 10, 2009 pada 12:46 pm
sajak yang tak pernah jenuh kubaca berkali-kali ……
jadi inget Rima waktu bacain puisi ini di DKC
^_^