Demokrasi Dunia Ketiga
Kalian harus demokratis. Baik, tapi jauhkan
tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku
bukankah engkau… Tutup mulut! Soal tinjuku
mau kukepalkan, kusimpan di saku
atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu harus demokratis. Lagi pula
kita tidak sedang bicara soal aku, tapi soal kamu
yaitu kamu harus demokratis!
Tentu saja saya setuju, bukankah selama ini
saya telah mencoba… Sudahlah! Kami tak mau dengar
apa alasanmu. Tak perlu berkilah
dan buang waktu. Aku perintahkan kamu
untuk demokratis, habis perkara! Ingat
gerombolan demokrasi yang kami galang
akan melindasmu habis. Jadi jangan macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis.
Awas kalau tidak!
1998
Iswara berkata,
Februari 22, 2008 pada 9:06 am
Saya pertama kali membaca sajak ini dari buku kumpulan Mas Agus R. Sarjono. Sajak-sajaknya to the point dan sarat dengan kritik sosial. Saya juga mengajarkan sajak-sajaknya untuk mahasiswa saya.
Mampir di blog saya, Mas: http://jurnal-sastra.blogspot.com
DiNeJaD berkata,
Juni 13, 2008 pada 3:56 am
om agus. . . . . .
boleh donk ngefans sama puisinya. . . .
bondol berkata,
Januari 13, 2009 pada 7:19 am
ngak jelas banget sih.
ldlv berkata,
Maret 5, 2009 pada 1:28 pm
lol @ atas, puisi itu seperti analogi, ada hubungan dengan zaman pembuatannya dan kata2nya
rosmaniar berkata,
November 10, 2009 pada 12:29 pm
Sumpah…asli! dahsyat banget puisinya. ga nyesel meski telat baca ni puisi. Hidup Mas agus!
alice berkata,
Desember 18, 2009 pada 2:44 am
Maksa nee