Goethe Masuk Pesantren

Mei 16, 2007 at 6:12 am (On Event)

Rudyard Kipling mengatakan west is west east is east, never the twain shall meet. Lama kemudian muncul Samuel Huntington dengan tesisnya mengenai the clash of civilization. Barat dan timur selalu dihadapkan dalam oposisi biner, alias barat versus timur. Namun, tiga abad sebelumnya, seorang pujangga besar Jerman yang juga filsuf dan saintis terkemuka dunia, Johann Wolfgang von Goethe, tidak bicara mengenai clash, bahkan dialog timur-barat. Tidak. Ia mengatakan barat dan timur saling berpilin, tak terpisahkan lagi.

Dengan karya agungnya Diwan Barat-Timur Goethe menunjukkan pemahaman dan pergaulan yang luar biasa mendalam atas dunia timur, khususnya Islam. Tentu tetap dengan kepribadiannya yang kuat, Goethe dapat dengan santai pulang pergi timur-barat. Dan sajak-sajak pujangga besar dunia asal Jerman ini, kini dapat dinikmati publik Indonesia dengan relatif lengkap mewakili periode kepenyairannya lewat buku puisinya Satu dan Segalanya (2007) terjemahan Berthold Damhäuser & Agus R. Sarjono sebagai buku keempat dalam Seri Puisi Jerman yang mereka sunting.

Kedua editor sekaligus penerjemah tersebut membawa Goethe ke Pesantren Al-Amin Perenduan, Madura; Pesantren Cipasung, dan Pesantren Cililin. Di ketiga pesantren tersebut sambutan para santri berbeda-beda, namun dengan antusiasme yang sama.

K.H. Acep Zamzam Noor, putra K.H. Ilyas Ruhyat dan sekaligus penyair kondang asal Cipasung, sangat bergembira dengan adanya pembacaan sajak-sajak Goethe di Pesantrennya, karena kagiatan semacam ini akan menumbuhkan apresiasi para santri atas khasanah sastra dari perspektif berbeda dan meneguhkan prinsip dan jalur perjuangan Acep Zamzam sang pelopor gerakan “Islam tapi Mesra”.

& Komentar

  1. ariabudi berkata,

    one tumb up for u agus

  2. Sulaiman Djaya berkata,

    Saya kira memang Goethe perlu juga singgah di pesantren, karena beberapa pembacanya adalah alumnus pesantren. Salam

Tulis sebuah Komentar