<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agus R. Sarjono</title>
	<atom:link href="http://agusrsarjono.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusrsarjono.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 15:54:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agusrsarjono.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agus R. Sarjono</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agusrsarjono.wordpress.com/osd.xml" title="Agus R. Sarjono" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agusrsarjono.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Laut, Komodo, Sastra</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/06/11/laut-komodo-sastra/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/06/11/laut-komodo-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 16:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/06/11/laut-komodo-sastra/</guid>
		<description><![CDATA[Agus R. Sarjono   Lamensia dunung notang Suwe santek bonga bintang Pang bulan batemung mata Antara biru langit dan biru laut, kapal kami melaju. Di hadapan terbentang horison, kakilangit yang melambai dan selalu luput dari gapaian. Kabut sudah lama berangkat. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya. Lalu bermunculan di jauhan sana pulau-pulau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=19&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Arial;">Agus R. Sarjono</span><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></strong></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"><em>Lamensia dunung notang</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"><em>Suwe santek bonga bintang</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"><em>Pang bulan batemung mata</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="aksaraisiCharChar"><span style="font-family:Arial;">Antara biru langit dan biru laut, kapal kami melaju. Di hadapan terbentang horison, kakilangit yang melambai dan selalu luput dari gapaian. Kabut sudah lama berangkat. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya. Lalu bermunculan di jauhan sana pulau-pulau batuan dalam warna oker, seperti pinggul perawan, bagai puisi tak tertuliskan. Pak Hassanud­din sang nakhoda bersandar santai dengan rokoknya, sekilas memandangi kapalnya yang lumayan besar itu hanya berisi sedikit penumpang. Penyair Taufiq Ismail bersandar santai di dinding geladak. Membaca buku panduan tulisan orang asing (tulisan siapa lagi?) tentang tanah airnya, sambil sesekali mencocokkan­nya dengan posisi perahu. Mungkin dia mengenang masa remajanya dulu, bersandar di geladak kapal melintasi lautan besar dan benua menuju Amerika sana. </span><span style="font-family:Arial;">Masa-masa muda yang jingga. Yang kini menjelma kakilangit, jauh di sana.<span id="more-19"></span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Penyair Hamid Jabbar dengan tubuh tua dan geloranya yang muda asyik bermain-main membikin sajak, sejumlah kata dipetiknya dari tepian kapal, dipilih, diputarbalik dan dibuangnya kembali ke lautan. Penyair Jamal D. Rahman di geladak itu pula. Tiduran. Sesekali menelentang memandangi awan, sesekali telungkup melirik laut. </span><span style="font-family:Arial;">Ia tidak tidak punya jarak yang kelewat panjang dengan masa remajanya yang baru kemarin. Mungkin ia menyuruk jauh ke masa kanaknya, bermain ombak di lautan Madura. Masa kanak yang biru, tempat berdiam danau-danau keharuan. </span><span style="font-family:Arial;">Sedang aku terduduk juga di situ. Disergap keindahan dan termangu. Seorang anak gunung yang tak punya pengalaman dengan laut. Maka laut tak memberi tambatan pada kenangan: sepenuhnya misteri dan pesona antara ngeri dan bahagia. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Labuan Bajo makin jauh saja dan kemudian tenggelam di balik langit. Di kiri kanan kapal tumbuh tebing-tebing batu yang gersang dan seksi. Jauh di sana adalah Loh Liang, yang populer dengan nama pulau Komodo. Ada sejumlah legenda dan cerita rakyat di sana. Aneh, aku justru teringat pada pelayaran Oddyseus saat pulang menuju Ithaca. Tebing batuan yang menjulang, debur ombak yang kadang besar, langit biru, dan awan samudra justru membawa ingatan pada kisah Yunani yang jauh di sana. </span><span style="font-family:Arial;">Mungkin seharusnya aku mengenang kisah Hang Tuah atau pelayaran Malin Kundang. Tapi siapa bisa mengatur asosiasi dan ingatan. Atau mungkin karena kisah Yunani padat dengan cerita tualang dan sekaligus merupakan perjalanan pulang menuju keteduhan rumah yang dihadang banyak rintangan dan berma­cam hambatan. Sedang Malin Kundang berisi kisah anak desa melarat yang sukses menjadi kaya kemu­dian tampil menjadi OKB (orang kaya baru) yang malu mengakui ibunya. Sementara Hang Tuah mem­bawa ingatan akan pelayaran dari seorang teruna dalam menjalani diri sebagai abdi negara. Dan nega­ra, belakangan ini adalah sebuah urusan yang tidak menarik. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Jika kisah Yunani itu membawa epos agung, maka negara kerap lahir dengan kisah telenovela dengan tragedi yang dibuat-buat tapi terus berke­lan­jut­an, dengan banyak paman, adik dan ipar yang ge­mar kasak-kusuk, culas dan jahat. Kisah-kisah tidak logis dan tidak menggugah semacam itu, tentu tak ingin diingat pada sebuah perjalanan mengarungi lautan di sebuah tempat indah 23456 km dari Jakarta. Dari pusat kisah-kisah telenovela dengan derita berlarat-larat dan bahagia yang dibuat-buat. Dalam telenovela bernegara itu pula berdesakan para Malin Kundang yang mendadak kaya yang mengidap rendah diri akut sehingga habis-habisan membung­kus diri dengan mobil mewah, setelan mewah, rumah mewah, namun dengan pikiran, jiwa, cita rasa, dan martabat yang compang-camping. Dengan kemewah­an kagetan itulah mereka mondar-mandir di depan hidung ibunya sambil menghinakannya. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Maka aku kembali mengenang Oddyseus yang baru usai berperang melawan Troya dengan penuh martabat, mengatasi rintangan perjalanan dengan penuh martabat, dan pulang ke rumah dengan penuh martabat pula. Mungkin itu sebabnya mengapa umumnya epos-epos Yunani menjadi epos besar, dan tragedi-tragedinya menjelma tragedi agung. Pada tragedi Yunani, tokohnya menjalani hidup dengan penuh martabat dan integritas, tak putus-putus berupaya menghindari malapetaka untuk menemu­kan akal sehat dan cahaya bagi manusia dan kemanu­siaan. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Oedipus, misalnya, begitu mendengar ramalan bahwa dirinya akan membunuh ayah dan menikahi ibu –sebuah tindakan yang merusak martabat kema­nusia­an– tanpa banyak pikir dia meninggalkan istana –yang dalam definisi Indonesia adalah pusat kekuasa­an, kemewahan dan hidup berkecukupan– tidak lain tidak bukan untuk mengindarkan diri dari bertindak lalim. </span><span style="font-family:Arial;">Ia kemudian menjadi raja karena berhasil mele­paskan negeri itu dari wabah dan malapetaka. </span><span style="font-family:Arial;">Sele­bih­nya adalah takdir yang keras. Hantaman telak pada keterbatasan daya manusia. Oedipus tanpa se­nga­ja membunuh ayah dan menikahi ibunya –ban­ding­kan dengan Malin Kundang yang dengan sengaja dan sadar menghianati ibunya. Begitu Oedipus tahu kesalahannya, tanpa banyak pikir ia meninggalkan ista­na dan menusuk kedua matanya menjadi buta.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Istana yang menjadi dambaan alam pikir Jawa dan Indonesia remeh belaka di mata para pahlawan Yu­nani dibanding martabat manusia. Sementara mar­tabat manusia remeh belaka di mata budaya Nusan­tara yang adiluhung luhur tanpa tanding dibanding kur­si kekuasaan dan istana. </span><span style="font-family:Arial;">Maka kutepiskan saja ki­sah-kisah leluhur yang memalukan dan menjelma men­jadi kenyataan di pusat-pusat kekuasaan masa kini itu. Akupun tetap membayangkan diri serupa Oddyseus. Tapi tak ada monster dan dewa-dewa yang mengganggu perjalanan kami. </span><span style="font-family:Arial;">Dan kami segera sampai ke Loh Liang dan disambut oleh Komodo dengan liur yang bertetesan mencium bau darah. Tapi komodo bukan monster dalam kisah Yunani, melain­kan komodo saja, yang meski ganas tapi lebih tahu batas di banding manusia Indonesia yang luhur ber­pan­casila. Bahkan penyair Taufiq Ismail yang adalah dokter hewan segera bisa menandai seekor komodo yang sakit lalu memegang-megang ekornya. Hampir saja dia mencoba membuka moncong komodo untuk memeriksa lidah dan matanya supaya dapat mem­beri­kan diagnosis yang tepat. Untung pawang komo­do segera mencegahnya, sebab siapa tahu Komodo itu salah duga dan menganggap penyair Taufiq Ismail bu­kan sebagai dokter yang sedang memeriksa kese­hat­an­nya, melainkan sarapan paginya yang istimewa. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Malam tiba. Sekumpulan babi hutan melintas di muka bilik kami. Jamal D. Rahman dengan riang mengambili buah asam dan memakannya sambil tak habis-habisnya mengagumi pohon siwalan masa kanaknya. “Yang itu pohon lontar. Habis berbuah pohon itu mati. Kalau dia hidup terus, berarti dia tidak berbuah”, ucapnya berlagak ahli. </span><span style="font-family:Arial;">Esoknya kami tahu, bahwa di kampung nelayan Komodo, agak jauh dari Loh Liang, sama sekali tak ada dermaga. </span><span style="font-family:Arial;">Jadi para nelayan kesulitan untuk menaik­kan dan menurunkan muatan dan hasil laut. Bela­kang­an kami tahu, banyak benar desa-desa nelayan yang tak memiliki dermaga. Negeri bahari yang luar biasa bukan? Tapi saya kira itu disengaja, agar para Malin Kundang yang sukses itu punya alasan untuk tidak pulang.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Sekembalinya ke Labuan Bajo kami mendengar berita para pekerja Indonesia dicambuki negeri te­tang­ga. Kamipun kemudian mencari penginapan de­ngan diam-diam. Tapi tetap saja ada yang mengenali kami dan langsung menyapa: “Bapak para sastrawan ya?”. Dengan malu kami jawab pertanyaan itu dengan “stttt”, lalu menghilang ke kamar masing-masing. Bagaimana lagi. Kami adalah sastrawan dari sebuah negeri yang rakyatnya dicambuki orang. Kami akan bertemu dengan siswa-siswa SMU negeri yang rakyatnya dicambuk orang. Kami nyatalakan TV. Di sana, kami lihat presiden yang rakyatnya dicambuki orang, para menteri dari negara yang rakyatnya di­cam­buki orang, wakil-wakil rakyat dari rakyat yang dicambuki orang –tanpa cita-cita untuk mewakili rakyat menerima cambukan. Lalu lagu-lagu dari pe­nya­nyi sebuah negeri yang rakyatnya dicambuki orang. Kami tidak tahan. Kami matikan TV dan ter­mangu. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Aku menangis diam-diam. </span><span class="aksaraisiCharCharChar"><span style="font-family:Arial;">Tengah malam aku keluar sendirian menuju pantai. Terkenang sekilas gadis Sumbawa berkulit anggur pegunungan yang membisikkan lawas di atas: “Jika kau rindu padaku/ Sibak atap pandang bintang/ Di bulan bertemu pandang. Dan rembulan bersinar dengan megahnya. Jajaran nyiur dan ombak yang berdebur pelan bagai dengkur perempuan sehabis persetubuh­an membikin malam menjadi hening, dan suci, dan kudus. Aku beringsut pelan-pelan, kembali ke kamar, tak sanggup menghadapi kesyahduan malam, tak mampu menerima bentangan keindahan dari sebuah negeri elok yang rakyatnya dicambuki orang.***</span></span><span style="font-family:Arial;"></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=19&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/06/11/laut-komodo-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Goethe Masuk Pesantren</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/05/16/goethe-masuk-pesantren/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/05/16/goethe-masuk-pesantren/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2007 06:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/05/16/goethe-masuk-pesantren/</guid>
		<description><![CDATA[Rudyard Kipling mengatakan west is west east is east, never the twain shall meet. Lama kemudian muncul Samuel Huntington dengan tesisnya mengenai the clash of civilization. Barat dan timur selalu dihadapkan dalam oposisi biner, alias barat versus timur. Namun, tiga abad sebelumnya, seorang pujangga besar Jerman yang juga filsuf dan saintis terkemuka dunia, Johann Wolfgang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=13&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rudyard Kipling mengatakan <em>west is west east is east, never the twain shall meet</em>. Lama kemudian muncul Samuel Huntington dengan tesisnya mengenai <em>the clash of civilization</em>. Barat dan timur selalu dihadapkan dalam oposisi biner, alias barat versus timur. Namun, tiga abad sebelumnya, seorang pujangga besar Jerman yang juga filsuf dan saintis terkemuka dunia, Johann Wolfgang von Goethe, tidak bicara mengenai <em>clash</em>, bahkan dialog timur-barat. Tidak. Ia mengatakan barat dan timur saling berpilin, tak terpisahkan lagi.<span id="more-13"></span></p>
<p>Dengan karya agungnya Diwan Barat-Timur <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Johann_Wolfgang_von_Goethe" target="_blank" title="Johann_Wolfgang_von_Goethe">Goethe </a>menunjukkan pemahaman dan pergaulan yang luar biasa mendalam atas dunia timur, khususnya Islam. Tentu tetap dengan kepribadiannya yang kuat, Goethe dapat dengan santai pulang pergi timur-barat. Dan sajak-sajak pujangga besar dunia asal Jerman ini, kini dapat dinikmati publik Indonesia dengan relatif lengkap mewakili periode kepenyairannya lewat buku puisinya <em>Satu dan Segalanya</em> (2007) terjemahan Berthold <span style="font-family:Georgia;">Damhäuser &amp; Agus R. Sarjono sebagai buku keempat dalam Seri Puisi Jerman yang mereka sunting.  <span> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"><span>Kedua editor sekaligus penerjemah tersebut membawa Goethe ke Pesantren Al-Amin Perenduan, Madura; Pesantren Cipasung, dan Pesantren Cililin. Di ketiga pesantren tersebut sambutan para santri berbeda-beda, namun dengan antusiasme yang sama.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"><span>K.H. Acep Zamzam Noor, putra K.H. Ilyas Ruhyat dan sekaligus penyair kondang asal Cipasung, sangat bergembira dengan adanya pembacaan sajak-sajak Goethe di Pesantrennya, karena kagiatan semacam ini akan menumbuhkan apresiasi para santri atas khasanah sastra dari perspektif berbeda dan meneguhkan prinsip dan jalur perjuangan Acep Zamzam sang pelopor gerakan &#8220;Islam tapi Mesra&#8221;.</span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=13&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/05/16/goethe-masuk-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Percakapan Ajaib Orang-orang Kecil</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/09/percakapan-ajaib-orang-orang-kecil/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/09/percakapan-ajaib-orang-orang-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 19:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/09/percakapan-ajaib-orang-orang-kecil/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dr. Heike Gäßler Baru-baru ini penerbit Edition Garlev, Berlin, menerbitkan kumpulan puisi Agus R. Sarjono, yakni Frische Knochen aus Banyuwangi (Tulang Segar dari Banyuwangi). Terjemahan Jerman dari siklus puisi ini akan diperkenalkan kepada publik Jerman pada pameran buku Leipzig tahun ini oleh editor Martin Jankowski.Sajak-sajak Agus R. Sarjono yang terutama bercerita tentang negeri Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=18&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong></h1>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"><strong><span style="font-family:Arial;">Oleh: Dr. Heike Gäßler</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong></span><span style="font-family:Arial;">Baru-baru ini penerbit Edition Garlev,<br />
Berlin, menerbitkan kumpulan puisi Agus R. Sarjono, yakni <em>Frische Knochen aus Banyuwangi</em> (<em>Tulang Segar dari Banyuwangi</em>). Terjemahan Jerman dari siklus puisi ini akan diperkenalkan kepada publik Jerman pada pameran buku<br />
Leipzig tahun ini oleh editor Martin Jankowski.</span><span style="font-family:Arial;">Sajak-sajak Agus R. Sarjono yang terutama bercerita tentang negeri<br />
Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Inge Dumpell dan Bertold Damshauser. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"><strong><span style="font-family:Arial;">Agus R. Sarjono , tulang segar dari banyuwangi.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong><span style="font-family:Arial;">Vitalitas sajak-sajak Agus R. Sarjono<span>  </span>menarik saya ke dalam suatu dunia sedih yang asing dan sekaligus intim. Yang di dalamnya keindahan dan kekejaman exist berdampingan dan tak terjembatani (tak dapat menemukan titik temu). </span><span style="font-family:Arial;">Inti/hakekat siklus puisi tsb. terdiri dari suatu permainan elemen dari airmata, kesedihan, kekecewaan, harapan, dan cinta. Penggambaran selain menghunjam pancaindera dan menimbulkan imaji-imaji, juga menimbulkan efek bauan dan bunyi juga selain menyentuh dan menimbulkan perasaan pada perut dan kulit. Agus R. Sarjono<span>  </span>tidak saja menciptakan gambar/imaji melainkan juga membangunkan elemen-elemen dan figur-figur dalam puisinya agar hidup. Dan ia membuatnya berkomunikasi seperti dalam suatu drama. Hal tersebut mengingatkan saya akan kebiasaan animistis. Latar belakang penyairnya sebagai ketua pers mahasiswa berpengaruh pada teknik jurnalistik yang dimanfaatkannya dalam puisi sehingga terasa adanya teknik wawancara antar elemen-elemen (elemen saling mewawancai) yang ia dengarkan dengan sabar.<span>  <span id="more-18"></span> </span></span><span style="font-family:Arial;">Dengan heran dan selalu lagi-lagi terkejut, saya mengikuti kejadian yang tak terduga serta perubahan yang mengalir/lancar/harmonis dari tingkat cerita ke tingkat makna dalam puisinya. </span><span style="font-family:Arial;">Kejadian sehari-hari dikaitkan dengan ungkapan metaforis (tindak metaforis/kerja metaforis). Ini digambarkan sebegitu hakiki dan hampir-hampir dapat disentuh sehingga terasa biasa dan alamiah/wajar. Ungkapan metaforis tersebut membelokkan perhatian saya kepada suatu kebenaran di bawah permukaan keseharian. Misalnya, dari proses cuci rambut biasa, bisa terjadi/berubah menjadi cuci ingatan, dan manusia di sawahnya tidak menanam tumbuhan melainkan cerita dan yang dipanen bukan padi melainkan kesedihan.</span><span style="font-family:Arial;">Perasaan takut dan harapan orang indonesia dimasukkan ke dalam syair-syair ini. Agus R. Sarjono<span>  </span>dalam puisinya bercerita tentang suatu dunia di mana semuanya berjiwa. Tiap batu, tiap benda, tiap mahluk, mengandung perasaan dan harapan yang sama, seperti juga manusia yang hidup di dunia ini. </span><span style="font-family:Arial;">Sang waktu di dalam puisi Agus R. Sarjono senantiasa hadir dan telah memperoleh sifat keabadian. Ia adalah ruangan besar yang tunggal (yang di dalamnya terkandung segala momentum kehidupan mulai dari kekinian, kembali ke leluhur silam, sampai ke masa depan). Tokoh-tokoh legenda dan dongeng dicampuraduk dengan tokoh-tokoh politik dan kekuasaan, yang juga cuma mengeluarkan cerita fantasi. </span><span style="font-family:Arial;">Gugatan penyair kepada penguasa negaranya memberi tempat untuk kesedihan-kesedihan dan keterlukaan manusia indonesia yang sangat mencintai negaranya dan yang masih juga membawa di dalamnya harapan tentang pertumbuhan dan tentang masa depan yang lebih indah. </span><span style="font-style:normal;font-family:Arial;">Penyair ini menggambarkan perbuatan pemerintah dan penguasa dengan cara yang sama kerasnya dengan penggambaran keputusasaan rakyatnya. Dalam beberapa sajak, para penguasa berbicara kepada kita/pembaca dengan rasa penuh cinta seorang ayah, mereka dalam sajak-sajak ini berkontak dengan negaranya tanpa merasa malu ketika mereka bercerita tentang pengalaman/ affair cinta mereka dan tentang cinta mereka terhadap kekuasaan, yang tiba-tiba (cinta itu) mulai memukul dengan tak terduga dan tentu bisa mengenai mereka yang tadinya masih dianggap dicintai. Begitu tokoh-tokoh kekuasaan menelanjangi diri dalam pengertian dirinya sebagai penghancur yang egoistis dan tidak kenal kasihan.</span><span style="font-family:Arial;">Tapi tokoh-tokoh yang tak berkuasa dalam puisi Agus R. Sarjono<span>  </span>tetap saja bersedia untuk berharap, dalam suatu dunia di mana mereka sudah lama terpaksa kehilangan setiap harapan. </span><span style="font-family:Arial;">Agus R. Sarjono<span>  </span>dalam puisinya gemar bermain dengan polaritas dan kontradiksi, ia menciptakan pasangan kontradiksi yang baru yang sebelumnya tidak ada kaitannya, dan ia memposisikan pasangan kontradiktif itu dengan kontras yang luar biasa. Ia menemukan perspektif-perspektif baru yang di dalam nya ia dapat menyiksa tokoh puisinya. Dari persfektif-perspektif itu, ia sanggup untuk secara leluasa menemukan kebenaran dan ingatan yang tersebunyi/ disembunyikan dalam lubangnya. Dan ia menyebabkan kebenaran dan ingatan itu mengalir ke arah saya, pembacanya, bagaikan minuman yang berbusa meluap <span>dari gelasnya</span>. ***</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><em>Heike Gäßler adalah seorang teaterawan dan sinolog, tinggal di Berlin</em></span></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=18&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/09/percakapan-ajaib-orang-orang-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hiperbola Agus R Sarjono</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/05/hiperbola-agus-r-sarjono/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/05/hiperbola-agus-r-sarjono/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2007 08:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essays]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/05/hiperbola-agus-r-sarjono/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Saut Situmorang** Dalam dunia puisi, salah satu persoalan penciptaan yang terpenting adalah bagaimana mempertemukan puisi dan politik dalam sebuah sajak. Bagaimana seorang penyair mesti menulis puisi politik hingga puisi tersebut benar-benar memiliki nilai estetik dan tidak terjerumus menjadi sekedar slogan politik yang dibungkus dalam penampilan sebuah puisi. Begitu pentingnya isu ini hingga, ironisnya, banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=17&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="postbody"><strong>oleh Saut Situmorang</strong>**</span></p>
<p><span class="postbody"></span><span class="postbody">Dalam dunia puisi, salah satu persoalan penciptaan yang terpenting adalah bagaimana mempertemukan puisi dan politik dalam sebuah sajak.<br />
Bagaimana seorang penyair mesti menulis puisi politik hingga puisi tersebut benar-benar memiliki nilai estetik dan tidak terjerumus menjadi sekedar slogan politik yang dibungkus dalam penampilan sebuah<br />
puisi. Begitu pentingnya isu ini hingga, ironisnya, banyak penyair sering lupa untuk memperhitungkannya dan akibatnya hanya menghasilkan pernyataan-pernyataan umum tentang kondisi sosial politik yang ada<br />
dalam baris-baris teks yang mengingatkan pembacanya kepada baris- baris dalam sebuah puisi.</span></p>
<p><span id="more-17"></span><span class="postbody"> Pernyataan-pernyataan umum itu sendiri biasanya dilontarkan dalam nada tunggal yang sangat monoton, yaitupenyair/narator dikesankan sebagai nabi kesepian yang sedang menghujat masyarakat di sekitarnya. Kebenaran moral yang secara tak sadar diklaim dengan semena-mena oleh sang penyair/narator akhirnya hanya membuat &#8220;puisi&#8221;nya itu gagal menjadi puitis tapi berhasil  menjadi retorika. Rumitnya persoalan penciptaan puisi politik bisa dibuktikan dari begitu banyaknya penyair yang menulis puisi politik,<br />
atau &#8220;sajak protes&#8221;, tapi hanya segelintir saja yang berhasil membuat namanya diakui secara umum sebagai penyair puisi politik, penyair terlibat (engaged poet).</span><span class="postbody">Membaca buku kumpulan puisi Agus R Sarjono Suatu Cerita dari Negeri Angin: Sejumlah Sajak Asli dan Satu Sajak Palsu (Jendela 2003) memberikan sebuah kesan betapa penyairnya berusaha untuk menghasilkan satu buku kumpulan puisi politik. Walau judul dan anak judul buku tidak menunjukkan tema khusus ini, ketigapuluh sembilan sajak dalam kumpulan Suatu Cerita dari Negeri Angin sebenarnya dimaksudkan sebagai &#8220;puisi penggugat&#8221;, meminjam istilah Berthold Damshauser seperti yang dikutipkan pada sampul belakang buku. Apa &#8220;yang digugat dan diprotes adalah keadaan di Indonesia, baik di zaman Orba maupun zaman yang disebut `zaman reformasi&#8217;&#8221;. Kalau hanya ini yang menjadi keistimewaan buku ini maka hal itu tidak begitu istimewa sebenarnya, karena protes atas kondisi sosial politik masyarakat Indonesia dalam bentuk puisi banyak ditulis dalam sejarah sastra Indonesia. (Agus Sarjono sendiri, dalam sebuah wawancara yang juga dilampirkan dalam buku ini, menyatakan bahwa &#8220;sebetulnya, tidak banyak benar penyair di Indonesia yang menulis mengenai masalah politik. Sepanjang tahun 70- an sampai 90-an hampir tidak ada penyair yang menulis sajak kritik sosial yang menonjol, kecuali tentu saja Rendra&#8221;. Kita tentu saja dengan mudah bisa membantah pernyataan redaktur Horison, majalah sastra satu-satunya di Indonesia, ini dengan menyebutkan nama-nama penyair yang sudah dikenal luas dalam sastra Indonesia tapi yang entah bagaimana bisa terlupakannya: F Rahardi, Wiji Thukul dan  Sutardji Calzoum Bachri.)</span><span class="postbody">Apa yang membuat buku kumpulan puisi kedua Agus Sarjono ini merangsang minat kita untuk membacanya, dan sekaligus untuk membuktikannya, adalah penggalan kutipan pada sampul belakang buku dari dua sumber (luar negeri) yang berbeda, yaitu Berthold Damshauser  dari Universitas Bonn, Jerman dan &#8220;Poetry on the Road&#8221;, Bremen, Jerman. Berthold Damshauser, dosen bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn, Jerman sekaligus juga penterjemah karya sastra  Indonesia ke dalam bahasa Jerman, menyatakan bahwa apa yang menarik dan merupakan kebesaran Agus Sarjono sebagai penyair (Indonesia) adalah bahwa &#8220;puisi penggugat&#8221; atau protes yang dituliskannya  itu &#8220;disampaikan dengan suara puitis yang unik, beragam, dan baru&#8221;.<br />
Dan dari keunikan, keberagaman, dan kebaruan dalam &#8220;suara puitis&#8221; Agus Sarjono tersebut terdapat sebuah unsur teks khas yang menonjol yang mewarnai keseluruhan kumpulan puisinya, yaitu humor hitam (black humour), bahkan &#8220;humor yang sangat hitam, yang toh tak mampu menutupi  keprihatinan mendalam yang terdapat di belakangnya&#8221;.</p>
<p>Sementara kutipan dari publikasi acara puisi &#8220;Poetry on the Road&#8221; yang diikuti Agus Sarjono tak lebih tak kurang memperkuat apa yang dinyatakan Berthold Damshauser tentang isi puisinya di atas, cuma  dengan tambahan bahwa Agus R Sarjono adalah &#8220;penyair muda terkemuka dari Indonesia&#8221;.</p>
<p>Dalam &#8220;proses kreatif&#8221;nya sebagai penyair, Agus Sarjono sendiri mengakui –seperti dinyatakannya dalam halaman &#8220;Semacam Pembukaan&#8221; dalam buku dan dielaborasinya dalam wawancara dengan Linda Voute yang saya maksud di atas– bahwa dia sebenarnya &#8220;ingin menulis sajak dengan gaya dan tema yang lain sama sekali dengan gaya dan tema yang selama ini [dia] geluti dan sebagiannya terbit dalam buku [Suatu<br />
Cerita dari Negeri Angin]. Gairah untuk menulis sajak yang lain sama sekali tersebut sangat meluap, sebesar dan semeluap gairah[nya] untuk mendapati nasib yang lain sama sekali bagi negeri[nya]. Namun karena negeri dan tanah air[nya] masih berhadapan dengan nasib dan urusan yang itu-itu juga, maka [dia] harus menerima nasib untuk menuliskan sajak-sajak dengan tema dan gaya sebagaimana pembaca temui dalam buku [Suatu Cerita]. [Karena dia] tidak bisa (dan tidak ingin) berpaling&#8221;.<br />
Dan alasannya menulis &#8220;puisi penggugat&#8221; seperti yang dikumpulkan  dalam Suatu Cerita bukanlah untuk &#8220;mendidik saudara-saudara setanah air&#8221; [tentang kondisi sosial politik Indonesia] &#8220;lewat sajak&#8221;<br />
tapi &#8220;justru ingin belajar dan bukan mengajar, ingin bertanya dan bukan menjawab, dan sesekali menangis atau berduka bersama orang-orang pinggiran di berbagai pelosok negeri[nya] yang tidak punya<br />
massa, tidak punya kekuasaan, tidak punya harta, tidak punya partai, dan terus-menerus dibisukan&#8221;.</p>
<p>Kejujuran pengarang seperti ini tentu saja membantu pembaca untuk lebih memahami karya yang sedang dibaca, walaupun konon, kata orang, &#8220;maksud pengarang&#8221; tidak memiliki relevansi terhadap proses<br />
interpretasi pembaca (intentional fallacy). Bukankah &#8220;pengarang sudah   mati&#8221; begitu karangannya dibaca pembacanya, hegemoni pengarang diganti oleh hegemoni pembaca?</p>
<p>Absolutisme hitam-putih semacam ini, tentu saja, tidak sehat dan  tidak perlu dalam sebuah peristiwa interpretasi karya seni karena bukankah istilah &#8220;seni&#8221; itu sendiri sudah menyiratkan adanya<br />
pengertian tentang &#8220;kebebasan individu&#8221; yang mesti ada baik dalam proses kreatif penciptaan maupun proses kreatif pembacaan.</p>
<p>Bertolak dari konsep pembacaan seperti inilah maka kejujuran pengarang bernama Agus R Sarjono relevan untuk dipakai juga dalam  menginterpretasi &#8220;puisi penggugat&#8221;nya dalam buku Suatu Cerita, di<br />
samping, tentu saja, faktor-faktor lain seperti teks puisi itu sendiri dan relasi intertekstualnya (yaitu apa yang disebut sebagai &#8220;the anxiety of influence&#8221; –bahwa &#8220;pengaruh&#8221; bukanlah seperti yang umumnya dipahami sebagai &#8220;pinjaman&#8221; langsung, atau asimilasi, atas materi dan bentuk dari karya-karya pengarang sebelumnya tapi melibatkan juga terjadinya distorsi yang drastis atas karya-karya pengarang pendahulu tersebut– oleh kritikus dekonstruksi Amerika Serikat, Harold Bloom) dengan teks-teks puisi lainnya dalam sejarah sastra Indonesia. Dan hiperbola, pernyataan berlebihan yang disengaja atau pelebih-lebihan fakta secara ekstravagan demi menimbulkan efek tertentu, merupakan trope utama/dominan yang mewarnai bahasa buku kumpulan puisi Agus R Sarjono ini: mulai dari judul/sub-judul buku, penggalan kutipan di sampul belakang buku, kata pengantar penyair, wawancara, dan ketigapuluh sembilan &#8220;puisi penggugat&#8221; itu sendiri, tentu saja.</p>
<p>***</p>
<p>Apakah yang dimaksud penyairnya dengan &#8220;Negeri Angin&#8221; pada judul buku dan sajak yang menjadi judul buku kumpulan puisi Agus Sarjono ini? Karena &#8220;Semacam Pembukaan&#8221; dari penyair dan isi wawancara tidak menjelaskan apa maksud istilah ini, maka saya berusaha mencari jawaban apa kira-kira &#8220;Negeri Angin&#8221; itu pada sajak dimaksud, tapi saya tetap tidak menemukannya. Apa yang saya temukan adalah hiperbola bahasa yang, mungkin, dimaksudkan untuk menimbulkan efek surreal pada pembacanya. Perhatikan kutipan bait pertama ini:</p>
<p></span></p>
<blockquote><p><span class="postbody"><em><strong>&#8220;Bendungan di kampungku yang dibangun </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>oleh seribu jam penataran, seratus upacara </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>dan sepuluh sangkur, pada sebuah subuh </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>berderak-derak dan runtuh. Airmata </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>yang berpuluh tahun tertahan </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>pecah menderas menyapu jalanan </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>lalu berubah menjadi genangan darah. </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Orang-orang bergegas mengeramasi rambut </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>dan ingatannya di sana&#8221;</strong></em>. (Sebuah Cerita dari Negeri Angin) </span><br />
<span class="postbody"></span></p></blockquote>
<p><span class="postbody"><br />
Apakah pecahnya bendungan telah menimbulkan &#8220;kesadaran&#8221; pada orang-orang kampung, termasuk si narator puisi sendiri, seperti yang disiratkan oleh prosesi &#8220;mengeramasi rambut dan ingatan&#8221; itu? Kalau<br />
benar, maka &#8220;bendungan&#8221; itu adalah simbol &#8220;penindasan&#8221;, &#8220;airmata yang berpuluh tahun tertahan&#8221;? Dan kesadaran apakah yang ditimbulkannya? Kenapa &#8220;airmata&#8221; berubah menjadi &#8220;genangan darah&#8221; dalam sebuah peristiwa timbulnya &#8220;kesadaran&#8221; dari sebuah realitas &#8220;penindasan&#8221;?  Dan di manakah &#8220;kampungku&#8221; itu berada?</span><span class="postbody">Antologi pertanyaan seperti ini akan terus menerus saya ajukan untuk memaksa &#8220;puisi penggugat&#8221; Agus R Sarjono untuk memberikan saya &#8220;sebuah cerita dari negeri angin&#8221; teks-teksnya.</span><span class="postbody">Bait kedua sajak &#8220;Sebuah Cerita dari Negeri Angin&#8221; tidak memberikan tambahan informasi apa-apa, kecuali kekerasan fisik yang tidak ada relevansinya dengan plot sajak dan sebuah frase yang cuma<br />
berisi &#8220;tentang sebuah saat sebuah musim/di sebuah negeri yang padat/berisi angin//</p>
<p>&#8220;Kesadaran&#8221; yang disiratkan terjadi oleh bait pertama sajak ternyata cuma interpretasi saya yang keterlaluan saja. Sajak ini tidak membicarakan terjadinya sebuah &#8220;&#8216;perubahan&#8221; keadaan kondisi sosial<br />
politik di &#8220;kampung&#8221; sang narator tapi merupakan parade hiperbola kekerasan fisik yang mengingatkan saya pada film kartun anak-anak semacam Tom &amp; Jerry di mana representasi kekerasan fisik tidak<br />
diniatkan untuk menghasilkan katarsis tapi sekedar hiburan yang menggelikan. Inilah yang saya maksudkan:</p>
<p></span></p>
<blockquote><p><span class="postbody"><em><strong>&#8220;Tetanggaku yang gemar cerita, pernah menangkap </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>seorang pesulap yang entah mengapa sibuk </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>mengendap-endap di ruang tidur kampungnya. </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Setelah dicekik dan ditebas lehernya, </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>ternyata tak sebuah cerita pun mengalir </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>dari kerongkongannya. Dari potongan </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>urat lehernya, hanya gas yang memancar keluar </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>diiringi denging sirine, semacam isyarat darurat </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>dari sebuah kapal yang tengah karam. Sejak itu </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>penduduk kampungku ramai-ramai melepas </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>kepala mereka dan menggantinya </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>dengan buah kelapa: keras dan berair. </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Buat persiapan, ucap mereka, jika seluruh </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>kampung hangus terbakar, kepala kami </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>masih bisa basah menyimpan ingatan </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>tentang anak-anak tersayang yang mengembara </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>ke kota-kota, bersekolah atau bergelandangan </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>mengais hari depan&#8221;. </strong></em></span><br />
<span class="postbody"></span></p></blockquote>
<p><span class="postbody"><br />
Apa yang membuat saya heran membaca bait ketiga sajak &#8220;Suatu Cerita&#8221; ini adalah sebuah ketidakjelasan lagi tentang &#8220;kampung&#8221; sang narator.<br />
Bukankah pembaca pada bait pertama sudah diberitahu bahwa setting sajak adalah kampung narator, &#8220;kampungku&#8221;, dan ini berarti &#8220;desaku&#8221;, bisa tempat asal usul orangtua sekaligus tempat kelahiran narator<br />
seperti pada istilah &#8220;kampung halaman&#8221;, tapi jelas tidak pernah dipakai untuk merujuk tempat tinggal dalam perantauan di luar kampung halaman, tapi kenapa referensi kepada &#8220;kampung&#8221; tetangganya memakai akhiran &#8220;nya&#8221;, bukan &#8220;kami&#8221; misalnya? Bukankah &#8220;tetangga&#8221; di kampung  halaman biasanya juga berasal dari kampung halaman tersebut?</span><span class="postbody">Juga, kenapa &#8220;seorang pesulap&#8221; yang &#8220;sibuk&#8221; mengendap-endap di ruang tidur kampung&#8221; tetangga narator? Makna referensial semacam apa yang ingin diciptakan dengan pemakaian istilah &#8220;pesulap&#8221; ini? Lalu, apakah &#8220;maksud&#8221; tekstual dari bait ketiga ini dalam konteks  keseluruhan sajak? Atau dalam kata lain, apa sebenarnya yang ingin diceritakan oleh sajak ini dengan segala absurditas metafor dan<br />
hiperbola yang membebaninya?</span><span class="postbody">Keterpesonaan pada hiperbola berlebihan melalui parade absurditas metafor yang, bagi saya, tidak berhasil menimbulkan efek surreal pada totalitas imaji tiap sajak, sebenarnya, membuat saya berpikir bahwa Agus Sarjono cuma &#8220;main-main&#8221; saja dalam bukunya ini. Maksud saya,  dia sebenarnya sedang berusaha melakukan eksperimentasi penulisan kolase surrealistik, yaitu semacam penjajaran dua imaji yang berbeda, atau lebih, untuk melahirkan sebuah efek fantastik pada pembacanya,  seperti yang dilakukan kaum Surrealis dan Realis-magis, tapi tidak mencapai hasil yang diharapkan, mungkin, karena ketidakjelasan konsepsi penulisan. Saya ambilkan contoh sederhana berikut ini:</p>
<p></span></p>
<blockquote><p><span class="postbody"><em><strong>&#8220;Kutebarkan remah roti </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Di taman kota Amsterdam bersalju </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Beribu-ribu burung merpati </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Berbondong-bondong menyerbu </strong></em></span><br />
<span class="postbody"></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Kutebarkan remah makanan </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Di taman kota Jakarta terik siang </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Beribu gelandangan dan anak jalanan </strong></em></span><br />
<span class="postbody"><em><strong>Serempak datang menerjang&#8221;</strong></em> . (Pantun Latihan) </span><br />
<span class="postbody"></span></p></blockquote>
<p><span class="postbody"><br />
Pertama-tama, adalah sangat mengherankan bahwa seorang penyair Indonesia seperti Agus R Sarjono, yang juga redaktur majalah sastra Indonesia, bisa sampai &#8220;lupa&#8221; apa sebenarnya yang dimaksud dengan<br />
pantun itu! Secara sederhana, bukankah sebuah pantun memiliki pakem persajakan: satu bait terdiri dari empat baris, masing-masing baris terdiri dari empat kata, di mana dua baris pertama merupakan sampiran (biasanya memakai imaji-imaji alam) dan dua baris terakhir isi  pantun, dan keseluruhannya dirangkai dalam sistem musik berpola rima- akhir abab. Dari penjelasan sederhana ini jelaslah bahwa &#8220;Pantun Latihan&#8221; di atas bukanlah sebuah pantun karena tidak memiliki  karakterisasi sebuah pantun, kecuali pola rimanya yang sengaja dibuat bab itu.</span><span class="postbody">Perbandingan yang dilakukan dengan penjajaran dua setting tempat dan isinya yang sangat berbeda satu sama lainnya pada sajak ini adalah kolase yang saya maksudkan di atas: remah roti vs remah makanan,<br />
Amsterdam bersalju vs Jakarta terik siang, burung merpati vs gelandangan dan anak jalanan, berbondong-bondong menyerbu vs serempak datang menerjang.</span><span class="postbody">Pemakaian hiperbola pun tidak luput dari sajak paling pendek dalam kumpulan puisi ini. Di sini hiperbola dipakai untuk menunjukkan drastisnya perbedaan antara kedua tempat, kedua kota, kedua budaya<br />
tapi dengan penekanan pada kondisi negatif negeri sendiri dan romantisisme negeri orang lain. Walaupun terkesan betapa sadomasokisnya sang narator dalam pameran pengejekan diri sendiri  ini, di sisi lain dia sebenarnya tak lebih hanya bayangan saja di kedua tempat yang dia sebutkan itu, yaitu seorang pengunjung anonim di sebuah taman kota. Keberadaannya pada kedua taman kedua kota itu<br />
mirip dengan keberadaan seorang turis yang mencatat apa yang dilihatnya dengan snapshot kamera untuk pengisi album foto perjalanan belaka. Saya, misalnya, bisa mempertanyakan apakah &#8220;makna&#8221;<br />
istilah &#8220;salju&#8221; bagi kota Amsterdam tidak sama dengan &#8220;makna&#8221; &#8220;terik  siang&#8221; bagi kota Jakarta dalam konteks budaya masing-masing.<br />
Bukankah &#8220;salju&#8221; merepresentasikan &#8220;musim dingin&#8221;, musim yang dianggap negatif dalam budaya Barat, sementara &#8220;musim panas&#8221;, &#8220;musim terik siang&#8221; merupakan musim yang selalu dinanti-nantikan?<br />
Kesalahkaprahan nuansa makna kontekstual semacam ini merupakan sebuah cacat tekstual yang dalam versi lain juga mewarnai sajak-sajak lain dalam kumpulan Suatu Cerita.</p>
<p>Pelebih-lebihan fakta secara ekstravagan demi menimbulkan efek tertentu yang menjadi ciri-utama Suatu Cerita, bagi saya, hanya menimbulkan efek pelebih-lebihan fakta belaka, hiperbola demi hiperbola belaka, dan tidak berhasil menciptakan kesan surrealitas yang absurd fantastis. Kalau para penyair &#8220;puisi mbeling&#8221; dengan segala absurditas &#8220;estetika main-main&#8221; mereka jelas-jelas menulis untuk mencapai efek humor, ekspresi dari bagaimana penyair &#8220;memandang semua kehidupan dalam diri dan luar lingkungannya secara menyeluruh,  lugu dan apa adanya&#8221; seperti yang dinyatakan Bapak Puisi Mbeling<br />
Indonesia Remy Sylado, maka keseriusan sikap Agus Sarjono dalam memandang &#8220;puisi penggugat&#8221;nya yang dikumpulkannya dalam buku Suatu Cerita ini (bahkan dicetak ulang!) justru menimbulkan efek surreal yang gagal dilakukan sajak-sajaknya! Perhatikanlah kutipan bait pertama dari sajak berjudul &#8220;Timang-timang&#8221; berikut ini:</p>
<p></span></p>
<blockquote><p><em><strong><span class="postbody">&#8220;Di manakah  kita sebelumnya pernah berjumpa, anakku</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">sayang, ketika engkau  menangis untuk pertama kali, bagai nasib</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">di keluasan dunia? Aku  menduga-duga dari mana</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">segala airmatamu bermula. Adakah karena langit</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">kosong sepi, atau darah yang tak putus-putus tumpah</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">di berbagai belahan sejarah: Auschwitz, Shabra,</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">Shatilla, Bosnia,  Somalia, Chechnya dan tanah-tanah air</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">di batinku, selalu saja meninggalkan luka menganga</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="postbody">tak seindah luka yang kau tinggalkan di tubuh ibumu</span></strong></em></p></blockquote>
<p><span class="postbody">yang berbahagia&#8221;. Bagaimanakah kita akan mengikuti logika puitis antara &#8220;airmata&#8221; anak sang narator dengan daftar kota-kota dunia yang merupakan simbolisme penindasan internasional itu?<br />
Berhasilkah pemakaian hiperbola yang terkesan sangat serius ini?</span><span class="postbody">Pemakaian hiperbola, terutama hiperbola yang berlebihan, seperti yangdominan dalam kumpulan puisi Suatu Cerita, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mencapai efek puitis yang menakjubkan seperti yang<br />
dilakukan Walt Whitman atau Allen Ginsberg dari khazanah puisi Amerika Serikat atau para penyair Surrealis seperti Aimé Césaire dari Martinique, Karibia. Dan pemakaian hiperbola biasanya pun cukup<br />
sering dilakukan dalam penulisan &#8220;puisi politik&#8221; di khazanah sastra dunia. Saya menduga ketidakberhasilan Agus Sarjono dalam memanfaatkan  hiperbola dalam Suatu Cerita adalah karena sajak-sajaknya itu masih dalam tahap &#8220;pantun latihan&#8221; semata. Penguasaannya atas metafor,<br />
dalam konteks puisi yang menggugat dan memprotes kondisi sosial  politik Indonesia kontemporer, belum maksimal, mungkin karena posisinya sebagai pengunjung taman kota seperti yang saya sebut di<br />
atas. Sementara nada pengucapan keseluruhan sajaknya dalam buku ini sangat kuat mengingatkan saya kepada nada pengucapan sajak-sajak moralis Taufiq Ismail. Saya malah curiga bahwa Taufiq Ismail<br />
merupakan pengaruh terbesar dalam keterpesonaannya pada hiperbola yang dihiperbolakan.</span><span class="postbody">Berdasarkan hal-hal inilah saya tidak setuju dengan pendapat Linde Voute, Berthold Damshauser dan publikasi &#8220;Poetry on the Road&#8221; yang ditempelkan pada buku puisi Suatu Cerita dari Negeri Angin yang<br />
mengklaim bahwa Agus R Sarjono adalah &#8220;penyair muda terkemuka Indonesia&#8221; yang &#8220;kebesaran[nya] sebagai penyair&#8221; terletak pada keunikan, keberagaman, dan kebaruan ekspresi suara puitisnya,<br />
bahwa &#8220;dia menulis dengan cara yang berbeda dibanding para penyair  lain yang menulis mengenai ketidakadilan sosial di negerinya&#8221;.</p>
<p>*Dibacakan pada acara &#8220;Ketika JOGJA Menghakimi JAKARTA&#8221;, 28 Mei 2003<br />
di auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.<br />
**Saut Situmorang, pencinta cersil Kho Ping Hoo, tinggal di<br />
Jogjakarta.</p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=17&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/05/hiperbola-agus-r-sarjono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seperti Pengakuan</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/04/seperti-pengakuan/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/04/seperti-pengakuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2007 08:15:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi - Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/04/seperti-pengakuan/</guid>
		<description><![CDATA[Di negeri kami semua berdebu selalu seperti kenangan atau sejarah. Pada sebuah pagi atau sore yang tentram, saat kami mengelilingi meja makan mungkin saja seseorang tiba-tiba menyalakan kipas angin dan debu penuh nama dan sebutan yang mengendap di sudut lemari, jalusi jendela atau ingatan tiba-tiba bertebaran kembali memenuhi udara hingga kita terbatuk seperti nasib buruk. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=16&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di negeri kami semua berdebu selalu<br />
seperti kenangan<br />
atau sejarah. Pada sebuah pagi atau sore<br />
yang tentram, saat kami mengelilingi meja makan<br />
mungkin saja seseorang tiba-tiba<br />
menyalakan kipas angin<br />
dan debu penuh nama dan sebutan yang mengendap<br />
di sudut lemari, jalusi jendela atau ingatan<br />
tiba-tiba bertebaran kembali memenuhi udara<br />
hingga kita terbatuk<br />
seperti nasib buruk.<span id="more-16"></span></p>
<p>Di negeri kami semua seperti kantor pemerintah<br />
penuh kertas dan urusan-urusan yang tertunda.<br />
Pada suatu hari, setelah bosan bergunjing<br />
atau main catur, seorang kerani mungkin saja<br />
salah menuliskan alamat<br />
dan memposkan surat, ke segala jurusan.<br />
Salah satu mungkin memasuki rumahmu<br />
hingga namamu dengan paksa terhapus<br />
dari daftar keluarga<br />
tempat kau sebelumnya hidup<br />
dan tertawa-tawa.</p>
<p>Dan berpuluh tahun kemudian<br />
anak cucumu pun terpesona<br />
memandang fotomu dalam sebuah arsip lama<br />
yang terlupa dibereskan.</p>
<p>Di negeri kami semua berdebu selalu,<br />
menggelitik hidung dan tenggorokan.<br />
Kami harus belajar menghela nafas baik-baik<br />
perlahan dan hati-hati. Sekali saja kami bersin<br />
segala sesuatunya bakal tak tertanggungkan. Semua<br />
di negeri kami berdebu selalu.</p>
<p>1998</p>
<p><strong>Iklan Wisata Sebuah Biro Perjalanan </strong></p>
<p>Jika Anda datang ke Indonesia, jangan lupa<br />
datang ke Aceh. Negeri tua yang tabah,<br />
tajam rencongnya bikin gentar nyali penjajah.<br />
Negeri indah. Hasil bumi dan tambang<br />
serba berlimpah. Di jaman modern,<br />
daerah ini menjadi museum.<br />
Anda bisa berfoto di depan gundukan mayat<br />
atau kaum perempuan yang habis diperkosa.<br />
Jika Anda tak punya peliharaan, bisa Anda pungut<br />
anak yatim sebanyak Anda suka.<br />
Inilah Aceh, daerah yang istimewa. Janganlah<br />
meminta lagu-lagu, baik keras maupun merdu.<br />
Di sini erang luka dan kesakitan<br />
direkam orang buat hiburan.</p>
<p>Tapi Lampung tak kalah hebat. Daerah perkebunan<br />
yang menawan. Daerah baru para transmigran<br />
contoh terbaik hasil pembangunan.<br />
Dengan bangga kami pindahkan<br />
para petani miskin dari kepadatan pulau Jawa<br />
biar kemelaratan tumbuh merata<br />
berkembang indah di mana-mana.<br />
Jika Anda tidak suka mayat dan tulang-tulang Aceh<br />
tulang-tulang daerah ini tak kalah dahsyatnya.<br />
Tentu saja diproduksi perusahaan kegarangan<br />
dan kecerobohan yang sama. Apa boleh buat<br />
kami lupa bagaimana mulanya.<br />
Pendeknya Kami mencium seperti bau<br />
pemberontakan orang-orang nekat<br />
atau semacam tarekat.<br />
Selain bertani, kami pastikan<br />
mereka membawa golok atau kelewang.<br />
Jangan tanya bukti, itu sepenuhnya soal nanti.<br />
Tapi kalau mereka berbuat macam-macam,<br />
bukankah keamanan bakal terancam? Tapi percayalah<br />
mereka tidak kami jatuhkan dengan tombak,<br />
golok atau kelewang. Kami bikin mereka<br />
bergelimpangan dengan mudah dan nyaman<br />
oleh senjata modern, model mutakhir yang diimpor<br />
langsung dari negeri-negeri industri<br />
yang demokratis, maju dan berperadaban.<br />
Jadi tolong jangan salahkan kami punya serdadu.<br />
Yang mereka tembaki memang gerombolan berbahaya.<br />
Bayangkan! sudah Muslim fundamentalis pula.</p>
<p>Anda ingin yang eksotik, kami punya banyak cadangan.<br />
Cobalah bepergian ke Timor Timur. Alamnya mesra<br />
sumber tambang yang kaya.<br />
Sebagian penduduknya merasa<br />
Indonesia hanya sekedar nama yang ditempelkan<br />
begitu saja ke jidat mereka,<br />
seperti merk mobil nasional kami<br />
yang sungguh resmi dibuat di negeri tetangga.<br />
Jika Anda kolektor tulang-belulang<br />
dan berbagai produk kekejaman<br />
di daerah ini semua tak kurang. Anda tinggal pilih<br />
Jangan Anda salahkan kami. Tak perlu pula<br />
menghujat kesana-kemari. Kami sudah membangun<br />
berbagai gedung dan jalan raya<br />
tapi penduduk sini berkeras mau merdeka.<br />
Sekali lagi: jika Anda kolektor sejati<br />
bagaimana bisa koleksi Anda dibilang sempurna<br />
tanpa tengkorak daerah ini?<br />
Persediaan kami lengkap: ada berbagai ukuran<br />
dari berbagai usia. Jika beli banyak<br />
kami tawarkan potongan harga.</p>
<p>Sebenarnya ingin juga kami tunjukkan kerasnya hati kami<br />
untuk maju dan penuh gengsi. Inilah dia Kedung Ombo<br />
waduk raksasa yang jaya. Di sini telah kami bendung<br />
segalanya: air mata, kesakitan dan keputusasaan para petani<br />
yang dengan riang kami usir pergi seperti ternak<br />
berbondong-bondong anak-beranak. Atau Madiun!<br />
Sungai darah yang indah. Hasil percintaan pertama<br />
bangsa kami dengan ideologi kiri. Ada cinta berikutnya<br />
semacam puber ideologis yang kedua.<br />
Jika Anda tak suka barang lama, kami sajikan juga<br />
sumbangan tulang-tulang baru dari Banyuwangi,<br />
Jember dan sekitarnya. Tulang-tulang yang mewah<br />
hasil keajaiban politik, sejumlah dusta, kegilaan<br />
campur dendam dan keputusasaan jelata.<br />
Kami tambahkan bau kemenyan<br />
dan aroma magis negeri tropis.<br />
Semuanya tersaji untuk Anda.</p>
<p>Para petualang sejati, janganlah berkecil hati.<br />
Di Irian Jaya akan Anda dapatkan pengalaman purbawi.<br />
Biru danau Sentani, puncak gunung berselimut salju abadi.<br />
Di belahan ini, tembaga dan emas berlimpah-ruah<br />
Anda bisa lihat orang-orang pribumi<br />
berkeliaran memburu babi<br />
atau menggali ketela dengan badan telanjang<br />
dan kemaluan hanya tertutup koteka.<br />
Komposisi yang indah bukan! Maklumlah<br />
Bangsa kami memang bangsa seniman.<br />
Jika Anda berminat, bisa kami usahakan<br />
tengkorak kepala manusia yang antik dan cantik<br />
hasil perang suku. Tapi harganya sangatlah tinggi<br />
maklum barang asli. Lagipula penduduk sini<br />
tidak memenggalnya setiap hari.<br />
Jika Anda ingin yang lebih murah<br />
pilih saja yang lebih modern.<br />
Memang kurang sempurna<br />
karena ada bekas peluru di pelipisnya.<br />
Tapi sebagai kenang-kenangan<br />
perjalanan Anda ke dunia ketiga, kami jamin<br />
souvenir ini tak bakal mengurangi kebanggaan Anda.</p>
<p>Tuhan mencipta tanah Priangan sambil tersenyum.<br />
Itu kata pameo yang agak berlebihan memang.<br />
Tapi alam dan gadisnya elok bukan buatan.<br />
Maka kunjungilah tanah ini, daerah pegunungan yang asri.<br />
Gairah Anda sebagai kolektor tulang korban kekerasan<br />
tak akan dikecewakan. Ada tulang tukang becak<br />
yang menggantung diri, ada pula tulang santri yang asyik<br />
dengan agamanya sendiri. Anda bahkan bisa berenang<br />
di danau penampungan air mata para petani<br />
yang tanahnya disulap jadi pusat industri<br />
padang golf dan perkebunan para petinggi.<br />
Tuhan boleh menciptakan tanah ini sambil tersenyum<br />
tapi koleksi tulang yang Anda inginkan itu<br />
dibikin dengan penuh geram dan benci.<br />
Jadi kualitasnya tak perlu Anda ragukan lagi.</p>
<p>Jika liburan Anda singkat saja, cukuplah<br />
berkeliling di Jakarta. Gedung pencakar langit<br />
dan pusat-pusat perbelanjaan<br />
semua negara tentulah punya. Tapi pencakar langit<br />
dan pertokoan yang hangus terbakar,<br />
kamilah penghasil utamanya. Anda bahkan bisa berfoto<br />
sekeluarga dengan latar belakang kerusuhan.<br />
Sebagai ibu kota negara, persediaan mayat, tulang<br />
dan tengkorak di sinilah pusatnya. Ada tengkorak<br />
dan tulang-tulang hasil kegeraman ideologis<br />
di Tanjung Priok sana. Ada tulang orang partai<br />
hasil kecantikan taktik politik di sudut situ.<br />
Ada juga tulang hasil kebencian rasialis<br />
di pusat pertokoan sini.<br />
Kami bisa banting harga jika Anda berminat<br />
pada tulang-tulang anak-anak jalanan yang mati tak sengaja<br />
karena lapar, dingin atau terlalu banyak menghirup<br />
bau lem perekat. Tulang jenis ini jauh lebih murah harganya<br />
karena mereka mati maunya sendiri. Tanpa tambahan<br />
anggaran pembelian peluru atau biaya politik.<br />
Dilihat dari segi kemewahan dan keindahan kota<br />
kami hargai ketulusan hati mereka yang bersedia mati<br />
tanpa banyak bicara. Mobil-mobil mewah kami<br />
jadinya bisa berlalu-lalang dengan lebih leluasa.<br />
Jadi untuk tulang jenis ini, kami tak pasang harga mati.</p>
<p>Dengan waktu pakansi yang pendek tak bisa kami tunjukkan<br />
semua keistimewaan-keistimewaan kami<br />
karena negeri kami demikian luasnya<br />
terhampar sepanjang bentangan potret para korban<br />
kerusuhan, pembantaian dan orang hilang.<br />
Jika Anda dari negeri maju<br />
di sini bakal Anda dapatkan pengalaman baru.<br />
Anda dijamin tak akan merasa bosan<br />
karena bisa bertualang ke berbagai pedalaman.<br />
Sengaja kami batasi jumlah kota-kota besar<br />
sebanyak jumlah konglomerat, hingga tak sukar<br />
kita mengingat. Selebihnya dusun dan hamparan gelap,<br />
seperti hamparan kaum melarat.</p>
<p>Inilah negeri kami. Sumber wisata bahari<br />
yang tak bakal habis dikelilingi dalam seribukali cuti.<br />
Dengan hanya sedikit uang, semua bisa Anda nikmati.<br />
Percayalah ini perjalanan istimewa<br />
yang tidak semua orang bisa mengalaminya!<br />
Bahkan, hanya satu dua saja warga negeri kami<br />
yang pernah menyaksikan sendiri kedasyatan tanah airnya<br />
selengkap yang tertera di dalam peta.</p>
<p>1998</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=16&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/04/seperti-pengakuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demokrasi Dunia Ketiga</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/02/demokrasi-dunia-ketiga/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/02/demokrasi-dunia-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 08:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/02/demokrasi-dunia-ketiga/</guid>
		<description><![CDATA[Kalian harus demokratis. Baik, tapi jauhkan tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku bukankah engkau… Tutup mulut! Soal tinjuku mau kukepalkan, kusimpan di saku atau kutonjokkan ke hidungmu, tentu sepenuhnya terserah padaku. Pokoknya kamu harus demokratis. Lagi pula kita tidak sedang bicara soal aku, tapi soal kamu yaitu kamu harus demokratis! Tentu saja saya setuju, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=15&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalian harus demokratis. Baik, tapi jauhkan<br />
tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku<br />
bukankah engkau… Tutup mulut! Soal tinjuku<br />
mau kukepalkan, kusimpan di saku<br />
atau kutonjokkan ke hidungmu,<br />
tentu sepenuhnya terserah padaku.<br />
Pokoknya kamu harus demokratis. Lagi pula<br />
kita tidak sedang bicara soal aku, tapi soal kamu<br />
yaitu kamu harus demokratis!</p>
<p>Tentu saja saya setuju, bukankah selama ini<br />
saya telah mencoba… Sudahlah! Kami tak mau dengar<br />
apa alasanmu. Tak perlu berkilah<br />
dan buang waktu. Aku perintahkan kamu<br />
untuk demokratis, habis perkara! Ingat<br />
gerombolan demokrasi yang kami galang<br />
akan melindasmu habis. Jadi jangan macam-macam<br />
Yang penting kamu harus demokratis.<br />
Awas kalau tidak!</p>
<p>1998</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=15&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/02/demokrasi-dunia-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deklarasi Cahaya</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/deklarasi-cahaya/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/deklarasi-cahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2007 06:31:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/deklarasi-cahaya/</guid>
		<description><![CDATA[Deklarasi Cahaya I Dengan nama Allah! Menjelmalah tongkat Musa menjadi perkasa, menelan segala ular dari sihir peradaban. Tongkat itu pula yang membelah lautan membuka jalan pembebasan. Tapi siapa yang tahan hidup merdeka berdiri bebas menengadah cakrawala? Hanya para Nabi dan pencinta dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya yang bisa hidup merdeka menerbangkan diri dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=14&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><font size="5">Deklarasi Cahaya</font></h1>
<p style="margin:0 -0.05pt 0 0;" class="MsoBodyText"><font face="Garamond">I</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Dengan nama Allah! Menjelmalah tongkat Musa</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menjadi perkasa, menelan segala ular </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dari sihir peradaban. Tongkat itu pula </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang membelah lautan membuka jalan</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">pembebasan. Tapi siapa </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang tahan hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">berdiri bebas menengadah cakrawala?</font><span id="more-14"></span></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Hanya para Nabi dan pencinta </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang bisa hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menerbangkan diri dari<br />
gaya tarik dunia</font></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;"><br />
</span></p>
<p style="margin:0 -0.05pt 0 0;" class="MsoBodyText"><font face="Garamond">II</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Sulaiman di singgasana gemilang</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang terbentang sejauh mata memandang</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">terhampar dari ufuk fajar </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">hingga malam menjelang. Tak putus-putus </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">merebahkan kening ke tanah</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dalam takjub yang enggan sudah</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">padaNya, pemilik semesta raya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">maka kalbunya pun berpuasa</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">atas segala kemilau dunia. Tapi siapa </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang tahan hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">berdiri bebas menengadah cakrawala? </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Hanya para Nabi dan pencinta </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang bisa hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menerbangkan diri dari<br />
gaya tarik dunia.</font></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;"><br />
</span></p>
<p style="margin:0 -0.05pt 0 0;" class="MsoBodyText"><font face="Garamond">III<span></span></font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Dengan cinta pada Allah yang tunggal</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dan tak berbagi, yang mustahil tanggal</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dan abadi, Ibrahim membawa kapak </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menghancurkan berhala pada peradaban</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dan hatinya sendiri. Di kalbunya hanya Allah</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Esa dan dan bercahaya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">membikin jiwanya bagai<br />
padang terbuka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">lautan luas yang bebas </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dan mandiri. Tapi siapa</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">tahan hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">berdiri bebas menengadah cakrawala?</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Hanya para Nabi dan pencinta </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang bisa hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menerbangkan diri dari<br />
gaya tarik dunia. </font></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;"><br />
</span></p>
<p style="margin:0 -0.05pt 0 0;" class="MsoBodyText"><font face="Garamond">IV<span> </span></font></p>
<p><font face="Garamond">Matahari memucat dan rembulan </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">bagai lilin yang lama padam. Panorama</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">segera jadi lusuh, kala cahaya wajah Yusuf </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">tersenyum menerangi dunia. </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Perempuan-perempuan jelita </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">berduyun-duyun menyulut syahwat</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">memikat Yusuf dalam sepenuh-penuh hasrat. </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Tapi Yusuf memilih penjara </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">bagi tubuhnya, dan merdeka </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">bagi ruhnya. Terlalu indah CintaNya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dibanding bermilyar perempuan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Dirangkainya tiap detik dan ingatan</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dengan gemerlap nama-nama Tuhan. Tapi siapa </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang tahan hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">berdiri bebas menengadah cakrawala?</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Hanya para Nabi dan pencinta </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang bisa hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menerbangkan diri dari<br />
gaya tarik dunia.</font></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;"><br />
</span></p>
<p style="margin:0 -0.05pt 0 0;" class="MsoBodyText"><font face="Garamond">V<span> </span></font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Di sunyi malam ketika angin</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menunduk takzim bersama dingin </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Muhammad bershalat</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">melipat seluruh semesta </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dalam kalbunya yang sabar dan bercahaya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">lalu berangkat menjumpai Tuhannya </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dengan sepenuh-penuh rindu</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">kepada Dia yang esa satu. </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Ketika suku Qurays mempersembahkan</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">singgasana agar dia serahkan hati</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">pada berhala dan tradisi </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">leluhur suku yang asli, iapun menampik</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">bahkan sekalipun matahari</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">bahkan sekalipun rembulan</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">kepadanya dipersembahkan, dia tak sudi</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menghambakan diri pada peradaban</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">sebab hanya pada Tuhan</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">ia temukan kebebasan </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">sebagai diri dan pribadi. </font></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;"><br />
</span></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Dunia tersipu malu </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">di ujung tikar sembahyang</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">ketika pada Tuhan, ruh dan tubuhnya </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">pergi dan pulang. Tapi siapa </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang tahan hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">berdiri bebas menengadah cakrawala?</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">Hanya para Nabi dan pencinta </font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">yang bisa hidup merdeka</font></p>
<p style="margin:0;" class="Apuisi"><font face="Garamond">menerbangkan diri dari<br />
gaya tarik dunia.</font></p>
<p><span><font face="Garamond">2000</font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=14&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/deklarasi-cahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balas Sajak Sarjono-Jankowski</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/balas-sajak-sarjono-jankowski/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/balas-sajak-sarjono-jankowski/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2007 05:47:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/balas-sajak-sarjono-jankowski/</guid>
		<description><![CDATA[Balas Sajak Sarjono-Jankowski Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2003 TAK banyak penyair menyadari bahwa sebuah kegiatan pembacaan puisi adalah bagian dari seni pertunjukan. Puisi jauh lebih banyak memberi kemungkinan karena wataknya yang multi-interpretable untuk diolah dalam bentuk-bentuk pertunjukan. WS Rendra dengan gerak dan mimik yang memesona, Sutardji Calzoum Bachri dengan atraksi panggungnya, dan Radhar Panca Dahana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=12&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"><em><font size="4">Balas Sajak Sarjono-Jankowski</font></em></font></p>
<p><font color="#cc0000" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="1"><strong>Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2003</strong></font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">TAK banyak penyair menyadari bahwa sebuah kegiatan pembacaan puisi adalah bagian dari seni pertunjukan. Puisi jauh lebih banyak memberi kemungkinan karena wataknya yang multi-interpretable untuk diolah dalam bentuk-bentuk pertunjukan. WS Rendra dengan gerak dan mimik yang memesona, Sutardji Calzoum Bachri dengan atraksi panggungnya, dan Radhar Panca Dahana dengan kemasan musik dan kostum yang menarik.</font><span id="more-12"></span></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Penyair Agus R Sarjono ditemani penyair asal Jerman, Martin Jankowski, Rabu (20/8) malam di Goethe Institute, Jakarta, melakukan sesuatu yang berbeda. Keduanya tidak lagi merunut jalan merebut perhatian penonton dengan mengeksplorasi unsur-unsur teatrikal di atas panggung. Agus dan Martin tampil sebagaimana laiknya sebuah acara talk show yang sering kali dilakukan di panggung-panggung politik. Bahkan secara agak provokatif keduanya sepakat memberi judul pembacaan itu dengan Kata, Suara, Telinga-Sebuah Dialog Puitis.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Barangkali perlu diungkapkan agar tidak menimbulkan salah tafsir, dialog puitis yang digelar Agus-Martin bukanlah dalam pengertian sebagaimana sebuah dialog dalam pertunjukan teater. Hanya dalam upaya menyederhanakan pengertian itu, kita sebut saja sebagai: berbalas sajak. Karena di situ, keduanya melakukan komunikasi dengan saling menjajal &#8220;kemahiran&#8221; masing-masing.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Ketika Agus menciptakan puisi berjudul Berlin, misalnya, Martin membalasnya dengan puisi Jakarta. Saat Agus membuat puisi Percakapan di Depan Perapian, Martin merespons dengan membuat puisi serupa berjudul Percakapan di Tengah Macet Lalu Lintas Menteng. Begitu seterusnya.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Di atas pentas yang terjadi kemudian, dialog yang tidak berhenti pada tataran verbal, tetapi mencakup penangkapan kedua manusia, yang kebetulan penyair, tentang negeri di mana mereka merasa asing. Agus mencoba melukiskan relung-relung Kota Berlin yang dikunjunginya, Martin dengan gaya prosaisnya melukis tentang tingkah laku kota dan manusia Indonesia. Martin penuh satire, sementara Agus lebih suka membawa imajinasi melantur hingga menyadari bahwa dia hanya seseorang yang berasal dari sebuah negeri tropik dan terkebelakang.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Martin melukiskan seorang Indonesia yang memuji setinggi langit tentang indahnya Jerman, tetapi ketika ditanya apakah dia pernah ke sana, hanya dijawab &#8220;belum&#8221;. Dan Martin berkata: /desas-desus yang bodoh bukan?/ khas orang Indonesia//.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Perempuan yang berdiri di sebuah stasiun di Kota Koln terus-menerus menjadi perhatian Agus, dan memberi judul karyanya Peri Kota Koln. &#8220;Saya lebih suka membicarakan manusia,&#8221; katanya. Penggambaran yang sama juga dilakukan Martin dalam puisi Pemeriksaan Polisi di Desa Lembar Pulau Lombok. Menariknya, kedua penyair ini memiliki kepekaan di dalam menangkap &#8220;penyimpangan&#8221; perilaku manusia-manusia yang diamatinya. Bagaimana perilaku polisi yang mengutip uang dari para awak kendaraan di Pelabuhan Lembar, dan selama ini dianggap biasa, ditangkap Martin menjadi sebentuk peristiwa yang seolah-olah mewakili sebagian besar perilaku manusia di negeri ini.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Sajak-sajak Martin yang prosais membuatnya menjadi leluasa melakukan kritikan- kritikan dengan pandangan heran seorang turis. Semua yang aneh dicatatnya dan itu membuat sebagian besar dari kita tersenyum, meski sesungguhnya tertampar.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">AGUS Sarjono menceritakan pertemuan mereka bermula ketika Martin Jankowski bertugas menjemputnya dua tahun lalu di bandara di Kota Berlin. &#8220;Saat itu Martin awam tentang Indonesia,&#8221; kata Agus.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Sebagai pemandu Agus, Martin lantas membawa Agus berkeliling Jerman, termasuk ke sebuah desa kecil bernama Langenboich, di mana pemenang Nobel Heinrich Boll bertempat tinggal. &#8220;Saya bahkan tinggal di rumah Heinrich Boll dan menulis beberapa sajak,&#8221; kata Agus.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Sepulang dari Jerman, Agus menulis banyak puisi tentang Jerman. Kedua sahabat ini kemudian bertemu pada festival lirik &#8220;Poetry International Indonesia&#8221; tahun 2002. Dan Martin sangat tertantang dengan keberhasilan Agus menulis sajak tentang Jerman. &#8220;Akhirnya saya juga mulai menulis tentang Indonesia,&#8221; tutur Martin.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Jadilah kemudian acara di Goethe Institute malam itu. Keduanya bersoal-jawab, untuk menyampaikan &#8220;isi hati&#8221; masing-masing. Memang yang kemudian muncul pertama-tama sebagian besar impresi-impresi kedua penyair tentang negeri-negeri asing. Gedung yang tinggi, polisi dan taksi yang nakal, perempuan yang murung, binatang tropis seperti cecak yang menggoda, malaria, Indonesia yang justru asing di mana para pakar tentang Indonesia, dan Kota Berlin yang muram.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Martin Jankowski yang lahir di Greifwald tahun 1965, adalah mantan demonstran prodemokrasi di eks Jerman Timur. Ketika kawan-kawannya banyak yang duduk di parlemen, ketika Tembok Berlin roboh, Martin malah memilih menjadi sastrawan.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Tidak banyak di negeri ini yang mengambil pilihan berani seperti Martin. Ia memilih menyusuri jalan sunyi, ketimbang &#8220;pamrih&#8221; terhadap apa yang telah ia sumbangkan bagi demokratisasi di Jerman.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Ketika ia menuliskan puisi-puisinya tentang Indonesia, maka perilaku manusia yang &#8220;menyimpang&#8221; itu segera menjadi sorotannya. Hebatnya, apa yang ia kritik tidak membuat pembacanya bermuka merah apalagi marah. Seperti ketika ia mengucapkan, &#8220;Jangan pakai taksi kuning, pilih yang biru,&#8221; dalam puisi Jakarta 2002, kita malah tersenyum.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Padahal kata-kata itu sarat dengan kritik, bahkan jangan-jangan sebuah sindiran terhadap perilaku politik di Tanah Air.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Agus Sarjono lahir di Bandung tahun 1962, dan kini salah satu redaktur di Majalah Sastra Horison. Sebagian besar puisinya membicarakan persoalan manusia dengan gaya prosaik dan penuh sindiran-sindiran dengan cara yang nyaris serupa seperti yang dilakukan Martin. Puisi Percakapan di Depan Perapian jelas sekali membersitkan itu. Setelah perempuan tua sibuk mengisahkan tentang Indonesia, pada akhir kata ia justru bertanya, &#8220;Di manakah letak Indonesia itu?&#8221;</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Memang, berbalas sajak kedua penyair ini tidak berhenti menjadi kumpulan &#8220;kesan dan pendapat&#8221; dari dua orang yang kebetulan saling mengunjungi negeri sahabatnya. Pertemuan itu justru melahirkan pelukisan dan kritik dengan bahasa satire dari sudut masing-masing. Bisa saja kritik itu hanya sepotong peristiwa yang dianggap biasa, di negeri asalnya, tetapi tidak di mata para penyair. (CAN)</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=12&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/04/01/balas-sajak-sarjono-jankowski/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sajak Palsu</title>
		<link>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/02/13/sajak-palsu/</link>
		<comments>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/02/13/sajak-palsu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Feb 2007 12:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusrsarjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poems (Indonesian)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/02/13/sajak-palsu/</guid>
		<description><![CDATA[Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=8&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah<br />
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar<br />
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah<br />
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka<br />
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah<br />
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru<br />
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian<br />
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu<br />
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru<br />
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu<br />
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan<br />
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah<br />
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir<br />
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,<br />
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.<br />
Sebagian menjadi guru, ilmuwan<br />
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi<br />
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu<br />
dengan ekonomi palsu sebagai panglima<br />
palsu. Mereka saksikan<br />
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor<br />
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan<br />
berbagai barang kelontong kualitas palsu.<br />
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus<br />
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga<br />
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri<br />
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga<br />
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka<br />
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu<br />
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis<br />
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam<br />
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu<br />
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan<br />
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar<br />
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya<br />
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring<br />
dan palsu.</p>
<p>1998</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusrsarjono.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusrsarjono.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusrsarjono.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusrsarjono.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusrsarjono.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusrsarjono.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusrsarjono.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusrsarjono.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusrsarjono.wordpress.com&amp;blog=523359&amp;post=8&amp;subd=agusrsarjono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/02/13/sajak-palsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9f7ffe785dbb811fb364bf525e0489d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusrsarjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
