Balas Sajak Sarjono-Jankowski

Balas Sajak Sarjono-Jankowski

Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2003

TAK banyak penyair menyadari bahwa sebuah kegiatan pembacaan puisi adalah bagian dari seni pertunjukan. Puisi jauh lebih banyak memberi kemungkinan karena wataknya yang multi-interpretable untuk diolah dalam bentuk-bentuk pertunjukan. WS Rendra dengan gerak dan mimik yang memesona, Sutardji Calzoum Bachri dengan atraksi panggungnya, dan Radhar Panca Dahana dengan kemasan musik dan kostum yang menarik.

Penyair Agus R Sarjono ditemani penyair asal Jerman, Martin Jankowski, Rabu (20/8) malam di Goethe Institute, Jakarta, melakukan sesuatu yang berbeda. Keduanya tidak lagi merunut jalan merebut perhatian penonton dengan mengeksplorasi unsur-unsur teatrikal di atas panggung. Agus dan Martin tampil sebagaimana laiknya sebuah acara talk show yang sering kali dilakukan di panggung-panggung politik. Bahkan secara agak provokatif keduanya sepakat memberi judul pembacaan itu dengan Kata, Suara, Telinga-Sebuah Dialog Puitis.

Barangkali perlu diungkapkan agar tidak menimbulkan salah tafsir, dialog puitis yang digelar Agus-Martin bukanlah dalam pengertian sebagaimana sebuah dialog dalam pertunjukan teater. Hanya dalam upaya menyederhanakan pengertian itu, kita sebut saja sebagai: berbalas sajak. Karena di situ, keduanya melakukan komunikasi dengan saling menjajal “kemahiran” masing-masing.

Ketika Agus menciptakan puisi berjudul Berlin, misalnya, Martin membalasnya dengan puisi Jakarta. Saat Agus membuat puisi Percakapan di Depan Perapian, Martin merespons dengan membuat puisi serupa berjudul Percakapan di Tengah Macet Lalu Lintas Menteng. Begitu seterusnya.

Di atas pentas yang terjadi kemudian, dialog yang tidak berhenti pada tataran verbal, tetapi mencakup penangkapan kedua manusia, yang kebetulan penyair, tentang negeri di mana mereka merasa asing. Agus mencoba melukiskan relung-relung Kota Berlin yang dikunjunginya, Martin dengan gaya prosaisnya melukis tentang tingkah laku kota dan manusia Indonesia. Martin penuh satire, sementara Agus lebih suka membawa imajinasi melantur hingga menyadari bahwa dia hanya seseorang yang berasal dari sebuah negeri tropik dan terkebelakang.

Martin melukiskan seorang Indonesia yang memuji setinggi langit tentang indahnya Jerman, tetapi ketika ditanya apakah dia pernah ke sana, hanya dijawab “belum”. Dan Martin berkata: /desas-desus yang bodoh bukan?/ khas orang Indonesia//.

Perempuan yang berdiri di sebuah stasiun di Kota Koln terus-menerus menjadi perhatian Agus, dan memberi judul karyanya Peri Kota Koln. “Saya lebih suka membicarakan manusia,” katanya. Penggambaran yang sama juga dilakukan Martin dalam puisi Pemeriksaan Polisi di Desa Lembar Pulau Lombok. Menariknya, kedua penyair ini memiliki kepekaan di dalam menangkap “penyimpangan” perilaku manusia-manusia yang diamatinya. Bagaimana perilaku polisi yang mengutip uang dari para awak kendaraan di Pelabuhan Lembar, dan selama ini dianggap biasa, ditangkap Martin menjadi sebentuk peristiwa yang seolah-olah mewakili sebagian besar perilaku manusia di negeri ini.

Sajak-sajak Martin yang prosais membuatnya menjadi leluasa melakukan kritikan- kritikan dengan pandangan heran seorang turis. Semua yang aneh dicatatnya dan itu membuat sebagian besar dari kita tersenyum, meski sesungguhnya tertampar.

AGUS Sarjono menceritakan pertemuan mereka bermula ketika Martin Jankowski bertugas menjemputnya dua tahun lalu di bandara di Kota Berlin. “Saat itu Martin awam tentang Indonesia,” kata Agus.

Sebagai pemandu Agus, Martin lantas membawa Agus berkeliling Jerman, termasuk ke sebuah desa kecil bernama Langenboich, di mana pemenang Nobel Heinrich Boll bertempat tinggal. “Saya bahkan tinggal di rumah Heinrich Boll dan menulis beberapa sajak,” kata Agus.

Sepulang dari Jerman, Agus menulis banyak puisi tentang Jerman. Kedua sahabat ini kemudian bertemu pada festival lirik “Poetry International Indonesia” tahun 2002. Dan Martin sangat tertantang dengan keberhasilan Agus menulis sajak tentang Jerman. “Akhirnya saya juga mulai menulis tentang Indonesia,” tutur Martin.

Jadilah kemudian acara di Goethe Institute malam itu. Keduanya bersoal-jawab, untuk menyampaikan “isi hati” masing-masing. Memang yang kemudian muncul pertama-tama sebagian besar impresi-impresi kedua penyair tentang negeri-negeri asing. Gedung yang tinggi, polisi dan taksi yang nakal, perempuan yang murung, binatang tropis seperti cecak yang menggoda, malaria, Indonesia yang justru asing di mana para pakar tentang Indonesia, dan Kota Berlin yang muram.

Martin Jankowski yang lahir di Greifwald tahun 1965, adalah mantan demonstran prodemokrasi di eks Jerman Timur. Ketika kawan-kawannya banyak yang duduk di parlemen, ketika Tembok Berlin roboh, Martin malah memilih menjadi sastrawan.

Tidak banyak di negeri ini yang mengambil pilihan berani seperti Martin. Ia memilih menyusuri jalan sunyi, ketimbang “pamrih” terhadap apa yang telah ia sumbangkan bagi demokratisasi di Jerman.

Ketika ia menuliskan puisi-puisinya tentang Indonesia, maka perilaku manusia yang “menyimpang” itu segera menjadi sorotannya. Hebatnya, apa yang ia kritik tidak membuat pembacanya bermuka merah apalagi marah. Seperti ketika ia mengucapkan, “Jangan pakai taksi kuning, pilih yang biru,” dalam puisi Jakarta 2002, kita malah tersenyum.

Padahal kata-kata itu sarat dengan kritik, bahkan jangan-jangan sebuah sindiran terhadap perilaku politik di Tanah Air.

Agus Sarjono lahir di Bandung tahun 1962, dan kini salah satu redaktur di Majalah Sastra Horison. Sebagian besar puisinya membicarakan persoalan manusia dengan gaya prosaik dan penuh sindiran-sindiran dengan cara yang nyaris serupa seperti yang dilakukan Martin. Puisi Percakapan di Depan Perapian jelas sekali membersitkan itu. Setelah perempuan tua sibuk mengisahkan tentang Indonesia, pada akhir kata ia justru bertanya, “Di manakah letak Indonesia itu?”

Memang, berbalas sajak kedua penyair ini tidak berhenti menjadi kumpulan “kesan dan pendapat” dari dua orang yang kebetulan saling mengunjungi negeri sahabatnya. Pertemuan itu justru melahirkan pelukisan dan kritik dengan bahasa satire dari sudut masing-masing. Bisa saja kritik itu hanya sepotong peristiwa yang dianggap biasa, di negeri asalnya, tetapi tidak di mata para penyair. (CAN)

5 pemikiran pada “Balas Sajak Sarjono-Jankowski

  1. senang sekali saya menemukan tulisan penyair senior di belantara dunia maya ini …
    bolehkah saya mencuri ilmu dari tulisan-tulisan Pak Agus?

    @ha ha ha ilmu itu khasanah bersama, jadi tentu saja sejauh menyebut sumbernya

  2. sependapat sama dedy, senang bisa mampir dan bertemu penyair seperti oom agus ini. aku link ya oom, biar gampang menimba ilmu.
    salam,
    Yo

    @salam dan silahkan

  3. Wah, asiiiik, akhirnya nemu juga site nya mas Agus. lumayan, siapa tahu setelah membaca tulisan-tulisan mas di sini, saya jadi bisa menjadi seorang yang serius =) (pasti mas Agus sudah lupa ma saya) hehehe…

    oke deh mas, tetap berpuisi dan tetap muda selamanya.

    salam,
    tukang tidur

  4. Untung sekali saya dapat duet baca puisi dengan Martin Jankowski di Unlam kemarin.
    Kemudian terus bisa kontak lewat email dan blog ketika dia pulang ke Jerman.
    Eh, kemarin saya cari Mas Agus di LPMP Banjarbaru waktu ada kegiatan workshop, tapi Mas Agus sudah pulang bersama Pak Taufik, untung masih tinggal Jamal D dkk. sempat ngobrol di Grend Cafe. Salam salam.

  5. wah.. asyik yah bisa ketemu Herr Martin. Kapan diadakan Festival Puisi lagi? kalau bisa di Surabaya, soalnya saya mau ketemu Herr Martin. and, entschuldigung, bolehkah saya minta e-mail Herr Martin? Saya pengagum beliau. Salam yah untuk Herr Martin und viel Elfolg!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s