Seperti Pengakuan

Di negeri kami semua berdebu selalu
seperti kenangan
atau sejarah. Pada sebuah pagi atau sore
yang tentram, saat kami mengelilingi meja makan
mungkin saja seseorang tiba-tiba
menyalakan kipas angin
dan debu penuh nama dan sebutan yang mengendap
di sudut lemari, jalusi jendela atau ingatan
tiba-tiba bertebaran kembali memenuhi udara
hingga kita terbatuk
seperti nasib buruk.

Di negeri kami semua seperti kantor pemerintah
penuh kertas dan urusan-urusan yang tertunda.
Pada suatu hari, setelah bosan bergunjing
atau main catur, seorang kerani mungkin saja
salah menuliskan alamat
dan memposkan surat, ke segala jurusan.
Salah satu mungkin memasuki rumahmu
hingga namamu dengan paksa terhapus
dari daftar keluarga
tempat kau sebelumnya hidup
dan tertawa-tawa.

Dan berpuluh tahun kemudian
anak cucumu pun terpesona
memandang fotomu dalam sebuah arsip lama
yang terlupa dibereskan.

Di negeri kami semua berdebu selalu,
menggelitik hidung dan tenggorokan.
Kami harus belajar menghela nafas baik-baik
perlahan dan hati-hati. Sekali saja kami bersin
segala sesuatunya bakal tak tertanggungkan. Semua
di negeri kami berdebu selalu.

1998

Iklan Wisata Sebuah Biro Perjalanan

Jika Anda datang ke Indonesia, jangan lupa
datang ke Aceh. Negeri tua yang tabah,
tajam rencongnya bikin gentar nyali penjajah.
Negeri indah. Hasil bumi dan tambang
serba berlimpah. Di jaman modern,
daerah ini menjadi museum.
Anda bisa berfoto di depan gundukan mayat
atau kaum perempuan yang habis diperkosa.
Jika Anda tak punya peliharaan, bisa Anda pungut
anak yatim sebanyak Anda suka.
Inilah Aceh, daerah yang istimewa. Janganlah
meminta lagu-lagu, baik keras maupun merdu.
Di sini erang luka dan kesakitan
direkam orang buat hiburan.

Tapi Lampung tak kalah hebat. Daerah perkebunan
yang menawan. Daerah baru para transmigran
contoh terbaik hasil pembangunan.
Dengan bangga kami pindahkan
para petani miskin dari kepadatan pulau Jawa
biar kemelaratan tumbuh merata
berkembang indah di mana-mana.
Jika Anda tidak suka mayat dan tulang-tulang Aceh
tulang-tulang daerah ini tak kalah dahsyatnya.
Tentu saja diproduksi perusahaan kegarangan
dan kecerobohan yang sama. Apa boleh buat
kami lupa bagaimana mulanya.
Pendeknya Kami mencium seperti bau
pemberontakan orang-orang nekat
atau semacam tarekat.
Selain bertani, kami pastikan
mereka membawa golok atau kelewang.
Jangan tanya bukti, itu sepenuhnya soal nanti.
Tapi kalau mereka berbuat macam-macam,
bukankah keamanan bakal terancam? Tapi percayalah
mereka tidak kami jatuhkan dengan tombak,
golok atau kelewang. Kami bikin mereka
bergelimpangan dengan mudah dan nyaman
oleh senjata modern, model mutakhir yang diimpor
langsung dari negeri-negeri industri
yang demokratis, maju dan berperadaban.
Jadi tolong jangan salahkan kami punya serdadu.
Yang mereka tembaki memang gerombolan berbahaya.
Bayangkan! sudah Muslim fundamentalis pula.

Anda ingin yang eksotik, kami punya banyak cadangan.
Cobalah bepergian ke Timor Timur. Alamnya mesra
sumber tambang yang kaya.
Sebagian penduduknya merasa
Indonesia hanya sekedar nama yang ditempelkan
begitu saja ke jidat mereka,
seperti merk mobil nasional kami
yang sungguh resmi dibuat di negeri tetangga.
Jika Anda kolektor tulang-belulang
dan berbagai produk kekejaman
di daerah ini semua tak kurang. Anda tinggal pilih
Jangan Anda salahkan kami. Tak perlu pula
menghujat kesana-kemari. Kami sudah membangun
berbagai gedung dan jalan raya
tapi penduduk sini berkeras mau merdeka.
Sekali lagi: jika Anda kolektor sejati
bagaimana bisa koleksi Anda dibilang sempurna
tanpa tengkorak daerah ini?
Persediaan kami lengkap: ada berbagai ukuran
dari berbagai usia. Jika beli banyak
kami tawarkan potongan harga.

Sebenarnya ingin juga kami tunjukkan kerasnya hati kami
untuk maju dan penuh gengsi. Inilah dia Kedung Ombo
waduk raksasa yang jaya. Di sini telah kami bendung
segalanya: air mata, kesakitan dan keputusasaan para petani
yang dengan riang kami usir pergi seperti ternak
berbondong-bondong anak-beranak. Atau Madiun!
Sungai darah yang indah. Hasil percintaan pertama
bangsa kami dengan ideologi kiri. Ada cinta berikutnya
semacam puber ideologis yang kedua.
Jika Anda tak suka barang lama, kami sajikan juga
sumbangan tulang-tulang baru dari Banyuwangi,
Jember dan sekitarnya. Tulang-tulang yang mewah
hasil keajaiban politik, sejumlah dusta, kegilaan
campur dendam dan keputusasaan jelata.
Kami tambahkan bau kemenyan
dan aroma magis negeri tropis.
Semuanya tersaji untuk Anda.

Para petualang sejati, janganlah berkecil hati.
Di Irian Jaya akan Anda dapatkan pengalaman purbawi.
Biru danau Sentani, puncak gunung berselimut salju abadi.
Di belahan ini, tembaga dan emas berlimpah-ruah
Anda bisa lihat orang-orang pribumi
berkeliaran memburu babi
atau menggali ketela dengan badan telanjang
dan kemaluan hanya tertutup koteka.
Komposisi yang indah bukan! Maklumlah
Bangsa kami memang bangsa seniman.
Jika Anda berminat, bisa kami usahakan
tengkorak kepala manusia yang antik dan cantik
hasil perang suku. Tapi harganya sangatlah tinggi
maklum barang asli. Lagipula penduduk sini
tidak memenggalnya setiap hari.
Jika Anda ingin yang lebih murah
pilih saja yang lebih modern.
Memang kurang sempurna
karena ada bekas peluru di pelipisnya.
Tapi sebagai kenang-kenangan
perjalanan Anda ke dunia ketiga, kami jamin
souvenir ini tak bakal mengurangi kebanggaan Anda.

Tuhan mencipta tanah Priangan sambil tersenyum.
Itu kata pameo yang agak berlebihan memang.
Tapi alam dan gadisnya elok bukan buatan.
Maka kunjungilah tanah ini, daerah pegunungan yang asri.
Gairah Anda sebagai kolektor tulang korban kekerasan
tak akan dikecewakan. Ada tulang tukang becak
yang menggantung diri, ada pula tulang santri yang asyik
dengan agamanya sendiri. Anda bahkan bisa berenang
di danau penampungan air mata para petani
yang tanahnya disulap jadi pusat industri
padang golf dan perkebunan para petinggi.
Tuhan boleh menciptakan tanah ini sambil tersenyum
tapi koleksi tulang yang Anda inginkan itu
dibikin dengan penuh geram dan benci.
Jadi kualitasnya tak perlu Anda ragukan lagi.

Jika liburan Anda singkat saja, cukuplah
berkeliling di Jakarta. Gedung pencakar langit
dan pusat-pusat perbelanjaan
semua negara tentulah punya. Tapi pencakar langit
dan pertokoan yang hangus terbakar,
kamilah penghasil utamanya. Anda bahkan bisa berfoto
sekeluarga dengan latar belakang kerusuhan.
Sebagai ibu kota negara, persediaan mayat, tulang
dan tengkorak di sinilah pusatnya. Ada tengkorak
dan tulang-tulang hasil kegeraman ideologis
di Tanjung Priok sana. Ada tulang orang partai
hasil kecantikan taktik politik di sudut situ.
Ada juga tulang hasil kebencian rasialis
di pusat pertokoan sini.
Kami bisa banting harga jika Anda berminat
pada tulang-tulang anak-anak jalanan yang mati tak sengaja
karena lapar, dingin atau terlalu banyak menghirup
bau lem perekat. Tulang jenis ini jauh lebih murah harganya
karena mereka mati maunya sendiri. Tanpa tambahan
anggaran pembelian peluru atau biaya politik.
Dilihat dari segi kemewahan dan keindahan kota
kami hargai ketulusan hati mereka yang bersedia mati
tanpa banyak bicara. Mobil-mobil mewah kami
jadinya bisa berlalu-lalang dengan lebih leluasa.
Jadi untuk tulang jenis ini, kami tak pasang harga mati.

Dengan waktu pakansi yang pendek tak bisa kami tunjukkan
semua keistimewaan-keistimewaan kami
karena negeri kami demikian luasnya
terhampar sepanjang bentangan potret para korban
kerusuhan, pembantaian dan orang hilang.
Jika Anda dari negeri maju
di sini bakal Anda dapatkan pengalaman baru.
Anda dijamin tak akan merasa bosan
karena bisa bertualang ke berbagai pedalaman.
Sengaja kami batasi jumlah kota-kota besar
sebanyak jumlah konglomerat, hingga tak sukar
kita mengingat. Selebihnya dusun dan hamparan gelap,
seperti hamparan kaum melarat.

Inilah negeri kami. Sumber wisata bahari
yang tak bakal habis dikelilingi dalam seribukali cuti.
Dengan hanya sedikit uang, semua bisa Anda nikmati.
Percayalah ini perjalanan istimewa
yang tidak semua orang bisa mengalaminya!
Bahkan, hanya satu dua saja warga negeri kami
yang pernah menyaksikan sendiri kedasyatan tanah airnya
selengkap yang tertera di dalam peta.

1998

10 pemikiran pada “Seperti Pengakuan

  1. bang Agus…puisi nya bagus sekali.saya sangat menyukai puisi2 keras dan pemberontakan.namun karya abang ini sungguh sangat-sangat mengharukan.semoga para manusia2 tamak dan serakah juga manusia yg sangat tidak manusia itu dapat membuka matanya lebar2 untuk melihat negerinya yg sedang lumpuh dan terpuruk ini.klu mereka sampe iritasi….teteskan insto ajachhhhhhhhhh!!!!!!!!!!
    aq salut ama abang.maju terus bang…………………….

  2. pak kalo bisa ya tolong ajari adek mu ini cara berpuisi yg baik. seperti bukan puisi yg aku baca tapi gambar langsung tentang peristiwa nya langsung. makasih pak…makasih

  3. Saya hanya kenal Agus R. Sarjono sosok ronin yang pada tahun 1987-1988 naik delman menuju Perumahan Margahayu Kencana Bandung untuk menyelesaikan skripsinya, dan pada kenyataannya skripsi itu tidak dapat diselesaikannya di tempat itu.

  4. q salut ama mas agus…….emang insprasinya di ambil dr mn nihh….

    beri tau rahasia nya dong…

    eh,,,mas bisa gk buat kan puisi untuk q tema nya tetng
    “seseorang yang sedang mencari
    arti dan tujuan kehidupan sesungguhnya”

    terimakasih sebelumnya..

  5. Wow inspirasi dalam karya yang tak pernah hilang adalah anugerah
    pekat malam dengan tudung sajadah ketika bersujud adalah jiwa
    dituangkan dalam keharuan dan kesetiaan
    Itulah Agus R. Sarjono dengan kesederhanaan membangkitkan kita semua
    Salut-salut…..Saya juga harus banyak belajar dari mas agus ini
    Semangatnya yang meledak-ledak dituangkan dalam sebuah puisi
    Makasih mas…kunjungi blog saya juga yah mas..
    http://akucintakoperasi.blogspot.com

  6. tak di ragukan lagi. penggambaran dan sinisme yg menyatu.betul-betul menyayat ang hati.sangat beruntung membaca puisi ini.patut di baca oleh bu reni surabaya, wong bangka juned, ato robert sumsel, yang menghayal rorojongrang jadi joana dan di bawa ke kampungnya….masih ingat kang….

  7. Negeri ini telah terluka, penghianatan membuatnya terkapar dan nafasnya tersengal. marilah kita lerai penyakitnya agar pertiwi ini tersadar dari keberadaannya. Semangat masih ada kita masih punya harapan.

    hayo Kang Agus, untailah kata dengan semangat agar terobati luka2 yang terlanjur merambah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s