Percakapan Ajaib Orang-orang Kecil

Oleh: Dr. Heike Gäßler

Baru-baru ini penerbit Edition Garlev,
Berlin, menerbitkan kumpulan puisi Agus R. Sarjono, yakni Frische Knochen aus Banyuwangi (Tulang Segar dari Banyuwangi). Terjemahan Jerman dari siklus puisi ini akan diperkenalkan kepada publik Jerman pada pameran buku
Leipzig tahun ini oleh editor Martin Jankowski.
Sajak-sajak Agus R. Sarjono yang terutama bercerita tentang negeri
Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Inge Dumpell dan Bertold Damshauser. 
 

Agus R. Sarjono , tulang segar dari banyuwangi.

Vitalitas sajak-sajak Agus R. Sarjono  menarik saya ke dalam suatu dunia sedih yang asing dan sekaligus intim. Yang di dalamnya keindahan dan kekejaman exist berdampingan dan tak terjembatani (tak dapat menemukan titik temu). Inti/hakekat siklus puisi tsb. terdiri dari suatu permainan elemen dari airmata, kesedihan, kekecewaan, harapan, dan cinta. Penggambaran selain menghunjam pancaindera dan menimbulkan imaji-imaji, juga menimbulkan efek bauan dan bunyi juga selain menyentuh dan menimbulkan perasaan pada perut dan kulit. Agus R. Sarjono  tidak saja menciptakan gambar/imaji melainkan juga membangunkan elemen-elemen dan figur-figur dalam puisinya agar hidup. Dan ia membuatnya berkomunikasi seperti dalam suatu drama. Hal tersebut mengingatkan saya akan kebiasaan animistis. Latar belakang penyairnya sebagai ketua pers mahasiswa berpengaruh pada teknik jurnalistik yang dimanfaatkannya dalam puisi sehingga terasa adanya teknik wawancara antar elemen-elemen (elemen saling mewawancai) yang ia dengarkan dengan sabar.   Dengan heran dan selalu lagi-lagi terkejut, saya mengikuti kejadian yang tak terduga serta perubahan yang mengalir/lancar/harmonis dari tingkat cerita ke tingkat makna dalam puisinya. Kejadian sehari-hari dikaitkan dengan ungkapan metaforis (tindak metaforis/kerja metaforis). Ini digambarkan sebegitu hakiki dan hampir-hampir dapat disentuh sehingga terasa biasa dan alamiah/wajar. Ungkapan metaforis tersebut membelokkan perhatian saya kepada suatu kebenaran di bawah permukaan keseharian. Misalnya, dari proses cuci rambut biasa, bisa terjadi/berubah menjadi cuci ingatan, dan manusia di sawahnya tidak menanam tumbuhan melainkan cerita dan yang dipanen bukan padi melainkan kesedihan.Perasaan takut dan harapan orang indonesia dimasukkan ke dalam syair-syair ini. Agus R. Sarjono  dalam puisinya bercerita tentang suatu dunia di mana semuanya berjiwa. Tiap batu, tiap benda, tiap mahluk, mengandung perasaan dan harapan yang sama, seperti juga manusia yang hidup di dunia ini. Sang waktu di dalam puisi Agus R. Sarjono senantiasa hadir dan telah memperoleh sifat keabadian. Ia adalah ruangan besar yang tunggal (yang di dalamnya terkandung segala momentum kehidupan mulai dari kekinian, kembali ke leluhur silam, sampai ke masa depan). Tokoh-tokoh legenda dan dongeng dicampuraduk dengan tokoh-tokoh politik dan kekuasaan, yang juga cuma mengeluarkan cerita fantasi. Gugatan penyair kepada penguasa negaranya memberi tempat untuk kesedihan-kesedihan dan keterlukaan manusia indonesia yang sangat mencintai negaranya dan yang masih juga membawa di dalamnya harapan tentang pertumbuhan dan tentang masa depan yang lebih indah. Penyair ini menggambarkan perbuatan pemerintah dan penguasa dengan cara yang sama kerasnya dengan penggambaran keputusasaan rakyatnya. Dalam beberapa sajak, para penguasa berbicara kepada kita/pembaca dengan rasa penuh cinta seorang ayah, mereka dalam sajak-sajak ini berkontak dengan negaranya tanpa merasa malu ketika mereka bercerita tentang pengalaman/ affair cinta mereka dan tentang cinta mereka terhadap kekuasaan, yang tiba-tiba (cinta itu) mulai memukul dengan tak terduga dan tentu bisa mengenai mereka yang tadinya masih dianggap dicintai. Begitu tokoh-tokoh kekuasaan menelanjangi diri dalam pengertian dirinya sebagai penghancur yang egoistis dan tidak kenal kasihan.Tapi tokoh-tokoh yang tak berkuasa dalam puisi Agus R. Sarjono  tetap saja bersedia untuk berharap, dalam suatu dunia di mana mereka sudah lama terpaksa kehilangan setiap harapan. Agus R. Sarjono  dalam puisinya gemar bermain dengan polaritas dan kontradiksi, ia menciptakan pasangan kontradiksi yang baru yang sebelumnya tidak ada kaitannya, dan ia memposisikan pasangan kontradiktif itu dengan kontras yang luar biasa. Ia menemukan perspektif-perspektif baru yang di dalam nya ia dapat menyiksa tokoh puisinya. Dari persfektif-perspektif itu, ia sanggup untuk secara leluasa menemukan kebenaran dan ingatan yang tersebunyi/ disembunyikan dalam lubangnya. Dan ia menyebabkan kebenaran dan ingatan itu mengalir ke arah saya, pembacanya, bagaikan minuman yang berbusa meluap dari gelasnya. *** 

Heike Gäßler adalah seorang teaterawan dan sinolog, tinggal di Berlin

8 pemikiran pada “Percakapan Ajaib Orang-orang Kecil

  1. saya cuma ingin menyampaikan kesan salut dan ingin berteman dg sulaiman djaya. salam kenal. pernah sih beberapa kali ketemu di serang

  2. Biarkanlah bahasa jiwa terus merambah bumi, hanya dengan kehalusan dan indahnya kata2lah kehidupan menjadi lebih harmonis. Mas Agus tetaplah berkarya ….!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s