Laut, Komodo, Sastra

Agus R. Sarjono  

Lamensia dunung notang

Suwe santek bonga bintang

Pang bulan batemung mata

Antara biru langit dan biru laut, kapal kami melaju. Di hadapan terbentang horison, kakilangit yang melambai dan selalu luput dari gapaian. Kabut sudah lama berangkat. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya. Lalu bermunculan di jauhan sana pulau-pulau batuan dalam warna oker, seperti pinggul perawan, bagai puisi tak tertuliskan. Pak Hassanud­din sang nakhoda bersandar santai dengan rokoknya, sekilas memandangi kapalnya yang lumayan besar itu hanya berisi sedikit penumpang. Penyair Taufiq Ismail bersandar santai di dinding geladak. Membaca buku panduan tulisan orang asing (tulisan siapa lagi?) tentang tanah airnya, sambil sesekali mencocokkan­nya dengan posisi perahu. Mungkin dia mengenang masa remajanya dulu, bersandar di geladak kapal melintasi lautan besar dan benua menuju Amerika sana. Masa-masa muda yang jingga. Yang kini menjelma kakilangit, jauh di sana. Baca lebih lanjut

Goethe Masuk Pesantren

Rudyard Kipling mengatakan west is west east is east, never the twain shall meet. Lama kemudian muncul Samuel Huntington dengan tesisnya mengenai the clash of civilization. Barat dan timur selalu dihadapkan dalam oposisi biner, alias barat versus timur. Namun, tiga abad sebelumnya, seorang pujangga besar Jerman yang juga filsuf dan saintis terkemuka dunia, Johann Wolfgang von Goethe, tidak bicara mengenai clash, bahkan dialog timur-barat. Tidak. Ia mengatakan barat dan timur saling berpilin, tak terpisahkan lagi. Baca lebih lanjut

Percakapan Ajaib Orang-orang Kecil

Oleh: Dr. Heike Gäßler

Baru-baru ini penerbit Edition Garlev,
Berlin, menerbitkan kumpulan puisi Agus R. Sarjono, yakni Frische Knochen aus Banyuwangi (Tulang Segar dari Banyuwangi). Terjemahan Jerman dari siklus puisi ini akan diperkenalkan kepada publik Jerman pada pameran buku
Leipzig tahun ini oleh editor Martin Jankowski.
Sajak-sajak Agus R. Sarjono yang terutama bercerita tentang negeri
Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Inge Dumpell dan Bertold Damshauser. 
 

Agus R. Sarjono , tulang segar dari banyuwangi.

Vitalitas sajak-sajak Agus R. Sarjono  menarik saya ke dalam suatu dunia sedih yang asing dan sekaligus intim. Yang di dalamnya keindahan dan kekejaman exist berdampingan dan tak terjembatani (tak dapat menemukan titik temu). Inti/hakekat siklus puisi tsb. terdiri dari suatu permainan elemen dari airmata, kesedihan, kekecewaan, harapan, dan cinta. Penggambaran selain menghunjam pancaindera dan menimbulkan imaji-imaji, juga menimbulkan efek bauan dan bunyi juga selain menyentuh dan menimbulkan perasaan pada perut dan kulit. Agus R. Sarjono  tidak saja menciptakan gambar/imaji melainkan juga membangunkan elemen-elemen dan figur-figur dalam puisinya agar hidup. Dan ia membuatnya berkomunikasi seperti dalam suatu drama. Hal tersebut mengingatkan saya akan kebiasaan animistis. Latar belakang penyairnya sebagai ketua pers mahasiswa berpengaruh pada teknik jurnalistik yang dimanfaatkannya dalam puisi sehingga terasa adanya teknik wawancara antar elemen-elemen (elemen saling mewawancai) yang ia dengarkan dengan sabar.   Baca lebih lanjut

Hiperbola Agus R Sarjono

oleh Saut Situmorang**

Dalam dunia puisi, salah satu persoalan penciptaan yang terpenting adalah bagaimana mempertemukan puisi dan politik dalam sebuah sajak.
Bagaimana seorang penyair mesti menulis puisi politik hingga puisi tersebut benar-benar memiliki nilai estetik dan tidak terjerumus menjadi sekedar slogan politik yang dibungkus dalam penampilan sebuah
puisi. Begitu pentingnya isu ini hingga, ironisnya, banyak penyair sering lupa untuk memperhitungkannya dan akibatnya hanya menghasilkan pernyataan-pernyataan umum tentang kondisi sosial politik yang ada
dalam baris-baris teks yang mengingatkan pembacanya kepada baris- baris dalam sebuah puisi.

Baca lebih lanjut

Seperti Pengakuan

Di negeri kami semua berdebu selalu
seperti kenangan
atau sejarah. Pada sebuah pagi atau sore
yang tentram, saat kami mengelilingi meja makan
mungkin saja seseorang tiba-tiba
menyalakan kipas angin
dan debu penuh nama dan sebutan yang mengendap
di sudut lemari, jalusi jendela atau ingatan
tiba-tiba bertebaran kembali memenuhi udara
hingga kita terbatuk
seperti nasib buruk. Baca lebih lanjut

Demokrasi Dunia Ketiga

Kalian harus demokratis. Baik, tapi jauhkan
tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku
bukankah engkau… Tutup mulut! Soal tinjuku
mau kukepalkan, kusimpan di saku
atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu harus demokratis. Lagi pula
kita tidak sedang bicara soal aku, tapi soal kamu
yaitu kamu harus demokratis!

Tentu saja saya setuju, bukankah selama ini
saya telah mencoba… Sudahlah! Kami tak mau dengar
apa alasanmu. Tak perlu berkilah
dan buang waktu. Aku perintahkan kamu
untuk demokratis, habis perkara! Ingat
gerombolan demokrasi yang kami galang
akan melindasmu habis. Jadi jangan macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis.
Awas kalau tidak!

1998